Pada suatu kondisi, kita mungkin merencanakan suatu hal dengan sangat baik yang didasari oleh adanya harapan yang cukup tinggi. Dalam dunia pendidikan misalnya, bahwa dalam buku terkait standar dan prinsip pembelajaran matematika yang ditulis oleh NCTM semacam MGMP mata pelajaran matematika di USA disebutkan bahwa sebagai guru seharusnya tidak menurunkan ekspektasi terhadap murid. Maksud dari hal ini adalah bahwa misal kompetensi yang diharapkan dikuasai oleh murid melalui pembelajaran matematika adalah mampu melakukan analisis terhadap suatu kondisi dalam pemecahan masalah. Nah, ketika pembelajaran sebelum-sebelumnya guru mendapati bahwa kompetensi awal peserta didik sepertinya tidak memungkinkan untuk memfasilitasi penguasaan komepetensi yang berkaitan dengan melakukan analisis tersebut, guru mungkin cenderung akan menurunkan ekspektasi terhadap muridnya. NCTM merekomendasikan bahwa ketika hal ini terjadi, guru sebaiknya tidak perlu menurunkan ekspektasi terhadap muridnya, melainkan perlu memberikan bantuan atau dukungan yang lebih dan sesuai kepada muridnyanya agar ekspektasi tersebut dapat terealisasi (meskipun yang namanya ekspektasi wajar jika tidak tercapai atau terwujud).

Apa yang direkomendasikan oleh NCTM tersebut nyatanya bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Ketika ekspektasi telah dicurahkan pada rencana skenario pembelajaran yang akan diaktualisasikan, pada lembar kegiatan yang menjadi sarana bagi murid untuk belajar, dan rencana scaffolding yang akan diberikan ketika proses pembelajaran, di situlah ekspektasi (kepada murid dan proses pembelajaran yang terealisasi di kelas) seolah timbul (ke permukaan). Harapan yang timbul tersebut seolah tenggelam ketika terbentur oleh waktu yang belum mendukung, pengalaman dan pengetahuan murid di masa lalu, ketidakmungkinan untuk memberikan scaffolding kepada semua murid di kelas yang banyak secara satu per satu, dan lembar kegiatan yang nampaknya masih agak sulit dipahami oleh murid. Terkadang (saya) terlalu berekspektasi tinggi (harapan timbul) tanpa menyadari bahwa yang terjadi di lapangan sering kali tidak sesuai ekspektasi (harapan tenggelam).

Bagimana pun yang telah terjadi, baik harapan timbul maupun tenggelam, keduanya (pada akhirnya) tetap membawa pelajarannya masing-masing yang dapat saya ambil. Hanya saja, semoga (saya) tidak berlarut-larut dalam sesal ketika harapan yang timbul tersebut menjadi tenggelam karena kenyataan, sebab katanya “sesal tak kan ada arti”.