Yang Tak Jarang Terabaikan: Kesehatan Psikologis

Sudah lama tidak membuat postingan di blog ini, sekalinya buat postingan malah tentang kesehatan psikologis. Psikologisnya sedang bermasalah ya? Mungkin ya. Mungkin tidak. Bukankah status ataupun postingan yang kita buat di media sosial, termasuk blog, tidak selalu merefleksikan apa yang sedang dialami oleh pembuat status atau postingan tersebut? 

Beberapa waktu yang lalu, teman satu kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) ketika S1 dulu membuat status di WhatsApp, di mana statusnya berupa tangkapan layar video di kanal YouTube TEDx Talks yang berjudul How to practice emotional hygiene | Guy Winch | TEDxLinnaeusUniversity. Kesan pertama kali melihat status teman saya ini adalah tertarik untuk menonton video tersebut karena saya suka dengan hal-hal seputar psikologi, terutama masalah kesehatan mental. Akhirnya ketertarikan untuk menonton video tersebut baru saya realisasikan dua hari yang lalu sebelum berangkat tidur malam (note: diharapkan untuk tidak meniru untuk mengoperasikan HP sebelum tidur karena ini dapat membuat mata Anda menjadi segar bugar kembali). Bagi yang tertarik untuk menonton video yang saya maksud tersebut, berikut saya sajikan videonya.  Continue reading

Mungkinkah Kembali ke Masa Lalu?

Mungkinkah kembali ke masa lalu ketika hidup tanpa HP? via https://liveworkanywhere.com/traveling/live-without-cell-phone

Di malam ini, tiba-tiba pikiran ini memikirkan tentang keinginan untuk kembali ke masa lalu. Tentu bukan dalam artian menginginkan raga dan segala peristiwanya kembali ke masa lalu. Bukan. Melainkan pengalaman di masa lalu yang ingin rasanya saya lakukan kembali di masa ini dan mungkin juga di masa mendatang. Sudah berkali-kali pemikiran semacam ini melintas di pikiran saya. Pengalaman apakah yang saya maksud?

Pengalaman masa lalu yang ingin saya ulangi dan saya ingin merasakannya kembali adalah terbebas dari HP atau ponsel pintar (entah apakah ponsel ini benar-benar pintar dan membuat penggunanya juga pintar). Kenapa? Continue reading

Lebaran Tahun Ini Saya Sendiri

mosque-desert-with-lantern-islamic-illustration-happy-eid-mubarak_7081-1070Lebaran tahun ini nampaknya akan menjadi lebaran yang paling berbeda dengan lebaran-lebaran tahun sebelumnya karena adanya pandemi Covid-19 yang terjadi saat ini. Berita mudik yang biasanya menghiasi layar kaca televisi, bahkan sejak seminggu sebelum lebaran, nampaknya kini sudah berkurang signifikan dan diganti dengan berita razia larangan mudik. Tahun-tahun sebelumnya orang-orang begitu antusias menyambut lebaran dengan mengadakan takbiran keliling, namun sepertinya tahun ini tidak bisa lagi mengadakan takbiran keliling. Yang biasanya orang-orang pada sibuk mempersiapkan kue lebaran, ketupat, opor ayam, dan segala makanan dengan porsi yang tidak sedikit, sekarang mungkin orang-orang sudah tidak berselera lagi untuk menyiapkan itu semua. Anak-anak yang bersemangat untuk pergi ke masjid untuk takbiran—dan mendapatkan tambahan uang jajan dari seorang dermawan—sepertinya juga sudah agak sulit ditemui.

Continue reading

Apa Kunci Sukses Pembelajaran Matematika di Sekolah di Finlandia?

Talking to pupilsPada artikel Apakah Benar di Finlandia Tidak Ada Ujian Nasional? telah dibahas sekilas tentang sistem pendidikan di Finlandia dan hal-hal yang menjadi faktor penyebab pendidikan di Finlandia dapat dikatakan sebagai salah satu yang terbaik di dunia. Pada artikel ini, bagaimanapun juga, akan lebih difokuskan pada aspek pembelajaran matematika sebagai bagian dari pendidikan itu sendiri. Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa capaian matematika Finlandia dalam Programme for International Student Assessment (PISA) 2003 sampai dengan PISA 2018 selalu di atas rata-rata OECD [1]. Begitu juga pada Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS) 2011 dan 2015 di mana capaian matematika Finlandia juga di atas TIMSS scale centerpoint, yaitu di atas skor 500 [2,3]. Hasil ini mengindikasikan bahwa pembelajaran matematika di sekolah di Finlandia sukses dalam memfasilitasi siswanya dalam belajar matematika. Terlepas dari adanya pro dan kontra terkait dengan apakah hasil PISA dapat mencerminkan kualitas pendidikan atau pembelajaran di suatu negara atau tidak [lihat 4,5], tentu tidak ada salahnya kita belajar dari pembelajaran matematika di negara lain. Siapa tahu kita bisa menemukan hal baik untuk diterapkan dalam pembelajaran matematika di Indonesia, bukan? Continue reading