“Diinjak” atau “Dijunjung”?

Judul di atas hanyalah sekadar kiasan. Kata “diinjak” di situ melambangkan kata dihina, diejek, dipandang sebelah mata, diremehkan, dan sejenisnya. Sedangkan kata “dijunjung” di situ mewakili kata dipuji, dielu-elukan, diagung-agungkan, disanjung, dan sejenisnya. Dari penjelasan ini mungkin teman- teman sudah bisa memutuskan mau pilih diinjak atau dijunjung atau kadang pengin diinjak dan kadang pengin dijunjung. Hehehe. Continue reading

Advertisements

Yang Penting Ikhlas Dulu?

Mungkin dari kalian ada yang sudah dapat menduga apa yang akan aku bahas dalam postingan kali ini. Yups. Kali ini aku mau membahas mengenai “ikhlas”. Ide penulisan ini adalah setelah aku membaca buku yang berjudul “7 Keajaiban Rezeki” karya Ippho Santoso yangmana di dalam salah satu bahasannya adalah terkait dengan ikhlas. Dari sini ada satu hal yang seolah meruntuhkan pemahamanku tentang hakikat ikhlas.

Selama ini aku memahami ikhlas sebagai dasar atau modal awal untuk mengerjakan sesuatu. Secara sederhana, aku memahami kalau aku belum ikhlas untuk mengerjakan sesuatu maka aku tidak akan melakukan sesuatu tersebut. Jika memang terpakasa untuk melakukan sesuat tersebut- pun paling aku menjalaninya dengan berat hati aka tidak ikhlas. Dari pemahamanku yang seperti ini, akhirnya aku jadi sering ragu- ragu untuk melakukan kebaikan. Terlalu lama bertanya- tanya dalam hati dan pikiran apakah aku sudah ikhlas untuk mengerjakan sesuatu. Dan bisa ditebak bahwa jawaban yang aku terima adalah “rasa ketidakikhlasan”. Hiks L.

Sekian lama memahami hakikat ikhlas yang seperti ini, secara tidak langsung mengubah diriku menjadi orang yang terlalu pesimis dan negative thinking. Kalau aku nanti melakukan itu, jangan- jangan nanti begini. Kalau aku mengerjakan ini, nanti dikira aku sombong. Kalau aku melakukan ini, nanti aku tidak punya banyak waktu untuk beristirahat. Dan masih banyak lagi keraguan- keraguan dan/atau negative thinking dalam diri ini yang secara perlahan mengubur rasa percaya diri dan menimbulkan rasa rendah diri.

Kemarin lusa, aku membaca buku yang berjudul “7 Keajaiban Rezeki”. Memang bukan pertama kali aku membaca buku tersebut. Tapi jujur aku belum pernah membaca tuntas buku tersebut. Tapi entah kenapa saat itu aku memfokuskan bacaanku pada konsep keikhlasan diri. Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa ikhlas itu munculnya ya setelah kita melakukan sesuatu dan bisa jadi munculnya setelah adanya rasa terpaksa. Dalam buku tersebut memberikan contoh yang memperjelas konsep ikhlas ini dengan kegitan sholat. Dulu ketika kecil kita mungkin merasa terbebani untuk melakukan sholat 5 waktu dan sangat merasa terpaksa untuk melakukan hal tersebut (bisa jadi sampai sekarang J
J). Namun, seiring bejalannya waktu dan proses belajar dan pendewasaan yang terjadi pada diri kita, menjadikan kita sadar tentang apa hakekat sholat, mengapa harus sholat, dan mengapa dilarang meninggalkan sholat. Contoh lainnya adalah pada kasus bersedekah. Bagi yang tidak sering/ jarang bersedekah (termasuk aku L), sangatlah berat untuk melakukan sedekah. “Ah aku kan masih sekolah dan belum punya penghasilan. Kalau aku akhir bulan ini bersedekah, nanti aku tidak punya cukup uang untuk makan. Apalagi orang tua belum ngirim uang/ beasiswa belum turun. Kalaupun aku bersedekah takut malah nggak berkah karena nggak ikhlas.” Ya begitulah pikiran- pikiran negatif yang sering “menjegal” kita untuk berbuat kebaikan.

Kembali lagi ke kasus bersedekah. Kalau dipikir- pikir, bukan menjadi rahasia lagi bahwa untuk memulai kebaikan itu sangatlah sulit (setuju?). Sering kali pemahaman akan “ikhlas” yang tidak pada tempatnya dapat menjadi salah satu alas an bagi kita untuk tidak melakukan kebaikan. Beda lagi kasusnya kalau kita melawan rasa “ketidakikhlasan” untuk bersedekah meskipun kita tidak punya cukup harta (sedekah tidak harus hanya dengan harta kan?). Awalnya mungkin berat. Namun, kalau dilakukan secara kontinu, bisa jadi rasa “ketidakikhlasan” untuk bersedekah akan menjadi rasa “ikhlas” untuk bersedekah atau bisa jadi malah menimbulkan rasa “kecanduan” untuk bersedekah. Hahahaha… (tambar bolak balik pipi sendiri J)

Saat ini mungkin pemahamanku tentang konsep “ikhlas” sudah sedikit luntur dan mulai tergantikan dengan konsep “ikhlas” yang baru ini. Hehehe… So, mau pilih ikhlas terlebih dahulu sebelum melakukan sesuatu atau melakukan sesuatu terlebih dahulu meski terpaksa namun akhirnya menjadi ikhlas untuk melakukan sesuatu? (aku pilih yang mana ya? Kalau kamu pilih yang mana?)

Sekian.

“Stay hungry and stay foolish” (Steve Jobs)

 

Catatan: Berikut ini merupakan daftar pustaka untuk buku “7 Keajaiban Rezeki”

Ippho Santoso. 2012. 7 Keajaiban Rezeki: Rezeki Betambah, Nasih Berubah, Dalam 99 Hari, dengan Otak Kanan (Cetakan ke-21). Jakarta: PT Elex Media Komputindo.

Refleksi: Perkuliahan Semester 6

Horay… perkuliahan di semester 6 telah berakhir, dan kini saatnya liburan. Ya, liburan semester kali ini bertepatan dengan puasa Ramadhan dan hari raya Idul Fitri (aka Lebaran J). Rencana kegiatan selama liburan apa? Berikut ini adalah rencana kegiatan yang akan aku lakukan selama libur lebaran dan harus terselesaikan dalam waktu 1 minggu.

  1. Membaca dan mereviu jurnal
  2. Membaca buku tentang pendidikan, pembelajaran, dan metode penelitian pendidikan
  3. Membuat proposal skripsi yang sekaligus sebagai tugas perkuliahan metodologi penelitian pendidikan
  4. Membuat laporan/makalah tentang GUI Matlab
  5. Mencari ide proker kelompok dan proker individu untuk KKN yang akan dilaksanakan pada bulan Juli nanti

Terus olehku arep liburan tanpa tugas- tugas kapan? Berhenti untuk mengeluh dan menuntut, Nu, harus strong demi masa depanmu J.

Okay langsung saja ya. Sesuai dengan judul postingan, yaitu refleksi perkuliahan semester 6, kali ini aku ingin berintropeksi atau refleksi diri terhadap kegiatan perkuliahan selama di semester 6.

Semester 6 ini menurut aku merupakan semester yang cukup berat karena aku menempuh 11 mata kuliah (26 sks). Aku menempuh sks sebanyak itu dikarenakan masih ada 4 mata kuliah (strategi pembelajaran matematika, produksi dan pengembangan media pembelajaran matematika, geometri analitik ruang, dan sosioantropologi pendidikan) yang belum terambil saat semester 4 karena satu dan lain hal. Di awal semester belum merasa kelabakan, tapi lambat laun baru deh merasa kelabakan. Tugas- tugas perkuliahan datang satu demi satu dan “bergentayangan”. Ditambah lagi dengan manajemen waktuku yang ambrul adul. Wis komplit pokoke.

O iya, di semester 6 ini, aku mengambil mata kuliah pembelajaran mikro yang merupakan mata kuliah wajib tempuh bagi mahasiswa program studi pendidikan matematika. Untuk kelasku sendiri dibagi menjadi 3 kelompok pembelajaran mikro yang tiap kelompok terdiri dari 6-7 mahasiswa dengan 2 dosen pembimbing pembelajaran mikro. Sebelum melakukan pembelajaran mikro, setiap mahasiswa dituntut untuk membuat penggalan RPP* yang didesain untuk durasi pembelajaran 25 menit dan mengkonsultasikannya terlebih dahulu kepada dosen pembimbing. Setelah melaksanakan pembelajaran mikro, setiap mahasiswa dituntut untuk melakukan revisi terhadap penggalan RPP-nya tersebut sehingga dihasilkan penggalan RPP versi akhir. Adapun materi pembelajaran mikro yang dapat digunakan oleh setiap mahasiswa disesuikan dengan jenjang sekolah yang digunakan untuk Praktek Lapangan Terbimbing (PLT). Sebagai contoh, aku memperoleh jenjang SMA untuk PLT-ku nanti di semester 7. Berarti materi yang aku ambil untuk pembelajaran mikro adalah materi matematika jenjang SMA kelas X dan kelas XI berdasarkan Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD) Kurikulum 2013 revisi 2016 mata pelajaran matematika wajib.

Ada beberapa hal yang dapat aku ambil sebagai pelajaran selama dan setelah mengikuti perkuliahan pembelajaran mikro, yaitu:

  1. Bahwa antara dosen satu dengan dosen yang lain itu bisa saja terjadi perbedaan pandangan mengenai format RPP. Dosen perkuliahan perencanaan pembelajaran matematika di semester 5 dulu menghendaki menggunakan format RPP 2 kolom (aktivitas guru dan aktivitas siswa), sedangkan dosen pembimbing pembelajaran mikro menghendaki format RPP 1 kolom. Ya, aku seharusnya harus menyadari hal ini dan harus langsung bisa menyesuikan dengan “irama” dosen pembelajaran mikro.
  2. Lagi- lagi aku membuat penggalan RPP itu 4-7 hari sebelum aku maju, which means itu tidaklah cukup bagi aku untuk membuat penggalan RPP lengkap dengan LKS, lembar penilaian pengetahuan, dan rubriknya dengan baik. Akhirnya, penggalan RPP yang terbuat hanya ala kadarnya dan kurang maksimal (jangan ditiru ya adhik- adhik J). Kalau dipikir- piker, kan jeda maju pembelajaran mikro setiap mahasiswa itu 4 minggu dan seharusnya aku bisa memulai untuk membuat penggalan RPP jauh sebelum aku maju. Ya itulah, mau dikasih waktu 1 tahun-pun paling mengerjakannya 1 minggu sebelum waktu pengumpulan tugas (penyakit yang nggak ilang- ilang).
  3. Pas membuat penggalan RPP sih yakin kalau materi yang diambil mampu dieksekusi dalam durasi 25 menit. E ternyata pas penggalan RPP tersebut dieksekusi, durasinya bisa sampai 30 menit atau lebih. Terkadang apa yang diperkirakan tidaklah selalu sesuai dengan kenyataan (inilah yang dinamakan sebagai masalah). Memang untuk hal ini, pengalaman atau “jam terbanglah” yang mampu menjawabnya.
  4. Nah, ada masalah teknis yang aku hadapi di semester 6 ini, yaitu entah kenapa tiba- tiba notebookku tidak bisa masuk ke Windows. Akhirnya kuputuskan untuk install Linux dan merasa “pusing” memakai Linux dan akhirnya balik lagi install ulang Windows 7. Celakanya, waktu proses instalasi aku salah mempartisi dan akibatnya file- file di Local Disk D ku hilang musnah tak berbekas. Dari sini, aku sadar kalau harus melakukan backup file- file penting di notebook di penyimpanan online, seperti Google Drive dan Drop box.

Lanjut refleksi diri setelah mengikuti perkuliahan metodologi penelitian pendidikan. Selama mengikuti perkuliahan metodologi penelitian ini, aku merasa memperoleh banyak pengetahuan tentang hakikat penelitian pendidikan, jenis- jenis penelitian (kualitatif, kuantitatif, dan campuran), macam-macam penelitian kualitatif dan kuantitatif, teknik pengambilan sample, teknik analisis data, cara membuat latar belakang yang baik, dan variable- variable yang sering digunakan dalam penelitian pendidikan matematika (misal: higher order thinking skills, kemampuan pemecahan masalah, self explanation, disposisi matematis). Adapun hasil akhir dari mengikuti perkuliahan ini adalah proposal skripsi dan instrumen penelitian yang harus dikumpulkan pada tanggal 3 Juli 2017. Adapun refleksi diri dari mengikuti perkuliahan ini adalah: (1) janganlah malas untuk membaca dan mereviu jurnal dan buku terkait dengan judul skripsi yang diambil; (2) lagi dan lagi, cobalah mengerjakan tugas- tugas soon after tugas tersebut diberikan (dengan kata lain: jangan menunda-nunda untuk mengerjakan tugas). Akibatnya ya seperti sekarang ini kan? Yang harusnya libur lebaran bisa dimanfaatkan untuk menenangkan sejenak pikiran, e malah nggarap proposal. Kan kowe dhewe to akhire sing nanggung akibate. Hahahah.

Aku rasa refleksi diri terhadap 2 mata kuliah, pembelajaran mikro dan metodologi penelitian pendidikan matematika, sudah cukup untuk merefleksikan diri terhadap mata kuliah yang lain di semester 6. Setidaknya ada 4 hal penting yang menjadi refleksi diriku di semester 6 kali ini, yaitu:

  1. Lagi dan lagi harus berapa kali ini jadi refleksi diri di setiap akhir semester: jangan menunda- nunda untuk mengerjakan dan menyelesaikan tugas

  2. Bahwa yang terpenting saat kuliah itu bukanlah kecerdasan otak (aka kepintaran), tetapi kerajinan, ketekunan, dan tidak mudah putus asa adalah hal terpenting (menurutku) agar berhasil dalam perkuliahan

  3. Bahwa tidak usah menuntut apa yang dhasilkan harus sempurna (aka perfeksionis)

  4. Bahwa kuliah itu pada dasarnya bukan mengejar nilai atau gelar, tetapi mengejar ilmu pengetahuan dan untuk menjadi manusia yang bertaqwa, mandiri, dan cendekia. Kalau yang dikejar nilai ya akibatnya ketika sudah ganti semester, materi perkuliahan di semester yang lalu terhemapas dari memori otak alias lupa alias belajarnya tidak bermakna. Hahah.

Tuh kan kalau nulis di blog bisa mencapai lebih dari 1000 kata hanya dalam waktu kurang lebih satu jam (karo disambi nggarap liyane). Tapi kalau nulis proposal skripsi hanya bisa nulis 1 paragraf dalam waktu satu jam L (Lah kan pancen angel nulis ilmiah ki, Nu. Mbok kiro gampang).

Eh cukup segini saja ya refleksi diriku terkait dengan perkuliahan di semester 6 ini. Harapannya, hasilnyapun maksimal dan sangat memuaskan. Aminn. Maaf lho ya kalau tulisan kali ini sangat panjang. Itung- itung bisa buat meningkatkan kemampuan literasi teman- teman. Hahahaha. Alesan.

O iya berhubung besok itu Lebaran (aka Ied Mubarok), sekalian aku ingin menucapkan selamat Ied Mubarok, Minalaidzin walfaidzin, mohon maaflahir dan batin teman- teman. Semoga amal ibadah kita selama satu bulan ini diterima oleh Allah SWT. Aminn.

Setengah Hati

Pernahkah Engkau mengerjakan sesuatu dengan setengah hati? Pernahkah Engkau melaksanakan sesuatu tapi Engkau menjalaninya dengan setengah hati? Jika pernah, maka apa yang Engkau rasakan teman? Bukankah sesak yang Engkau rasakan? Bukankah berat hati yang Engkau rasakan? Bukankah kemalasan yang Engkau rasakan? Bukankah rasa tidak ikhlas yang Engkau rasakan? Apalagi teman?

Sesungguhnya apa yang aku tuliskan di atas tidak lain merupakan luapan isi hati dan pikiran yang seolah terus merasuk dan mempengaruhiku. Selama kurang lebih 16 minggu aku melakukan dan menjalani sesuatu yang tidak aku minati. Bukan karena aku tidak ingin mengambil pelajaran dari hal itu, tetapi lebih karena masih ada “pertentangan” dalam pikiranku. Mengapa aku harus mengerjakan itu? Mengapa aku harus mengambil itu? Kan aku tidak ingin menjadi… kan cita- citaku bukan ingin jadi…. Mengapa aku diwajibkan untuk mengambilnya?

Mungkin bagi sebagian besar teman- temanku (atau malah semuanya 🙂 ) pola pikirku ini salah dan terlalu sempit dalam memandang sesuatu. Tidak memikirkan apa yang akan terjadi jauh kedepan nanti. Ya… mungkin apa yang dipikirkan oleh temanku itu benar atau aku- nya sendiri yang terlalu keras kepala (stubborn). 🙂 

Untungnya, hal yang menjadi ganjalanku tersebut kini telah pergi dan selesai ku lalui. Entah hasilnya tidak memuaskan, ya itu sudah menjadi konsekuensinya. Suatu hal kalau dilakukan dengan sepenuh hati pun hasilnya bisa dikatakan tidak jauh dari kata memuaskan. Sebaliknya, segala sesuatu yang dilakukan dan dijalani dengan setengah hati alias tidak ikhlas pun hasilnya juga tidak jauh dari kata tidak memuaskan :). So, teman tahulah mana yang terjadi pada diriku :). Can you guess it? 

Catatan: salah satu efek samping dari “setengah hati” adalah membuat susah dan merepotkan orang lain (aka teman 🙂 )

Kredit gambar
[1] https://4.bp.blogspot.com/-DqM9YM0fxE4/UUUiMNorm7I/AAAAAAAADkE/l1lU3_g-pyU/s1600/setengah-satuperdua.png 

Benarkah itu Ambisiku?

Saat kecil mungkin sudah menjadi suatu keumuman kalau aku mencita- citakan untuk menjadi seorang dokter. Meskipun sebenarnya saat itu aku belum terlalu paham siapa dan apa itu dokter. Entah “guna- guna” apa yang menyebabkan anak- anak kecil (seperti saya) mempikan hal terasebut. Faktor dari lingkungan, kah, karena hanya mengikuti teman, kah, atau karena orang tua yang selalu menyebutkan doanya agar anaknya kelak jadi dokter. Ya, mungkin saja salah satu dari yang telah aku sebutkan tadi merupakan “guna- guna” yang aku maksud.

Yang ingin aku tekankan pada tulisanku kali ini adalah mengenai sumber ambisi yang selama ini aku miliki. Apakah memang ambisiku berasal dari diriku sendiri dan merupakan kebutuhanku atau berasal dari luar yang bisa berupa bentuk/ wujud tanggungjawab seorang anak kepada orang tuanya atau bisa jadi berasal dari pengaruh orang sekitar/ teman/ lingkungan yang pada dasarnya faktor “gengsi” lah yang membentuk ambisiku. So, let me explain it clearly.

Sejujurnya, aku merasa kalau yang meenyebabkan munculnya ambisi dalam diriku adalah lebih cenderung karena faktor eksternal bukan faktor internal. Faktor eksternal yang aku maksud di sini adalah orang tua, teman, dan lingkungan sekitar.

Sebenarnya kalau boleh jujur (ya boleh 🙂 ), aku bukanlah orang yang terlalu berambisi untuk mengejar popularitas, kekayaan, penghargaan, atau sejenisnya. Aku hanya menginginkan kedamaian, ketenangan, mengikuti aliran air tapi tidak ikut terhanyut. Mungkin bagi kebanyakan orang, orang yang tidak mempunyai ambisi itu adalah orang yang tidak punya target dalam hidup, tidak punya semangat hidup, dan bisa dikatakan hidupnya pasti “datar- datar” saja. Ya, mungkin yang meraka pikirkan merupakan suatu kebenaran, tapi menurutku kebenarannya tidak bisa digeneralisasikan.

Entah sampai kapan aku harus berambisi karena faktor dari luar diriku. Apakah sampai aku menemukan diriku yang sesungguhnya? Apakah hingga aku menjadi dewasa? Entahlah. Intinya, aku masih berusaha untuk menjadikan ambisiku (kalau aku berambisi) berasal dari dalam diriku sendiri, murni benar- benar murni . Semoga 🙂