Analisis Artikel—Proses Sosialisasi dan Agen Sosialisasi

“LINGKUNGAN KELUARGA SEBAGAI WAHANA SOSIALISASI DAN INTERAKSI EDUKATIF BAGI ANAK (Suatu Tinjauan Sosio-Edukasi Religius terhadap Pendidikan dalam Keluarga)”

Artikel yang berjudul “Lingkungan keluarga sebagai wahana sosialisasi dan interaksi edukatif bagi anak (suatu tinjauan sosio- edukasi religius terhadap pendidikan dalam keluarga” memaparkan tentang makna dan hekekat pendidikan keluarga, fungsi keluarga, keluarga sebagai wahana sosialisasi bagi anak, dan pola interaksi yang bersifat sosio edukasi religius dalam keluarga. Dari artikel tersebut dijelaskan bahwa lingkungan merupakan faktor penting yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan seseorang. Lingkungan yang dimaksud adalah lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat. Lingkungan yang paling mendasar dan berperan penting dan memiliki fungsi strategis dalam mendidik anak adalah lingkungan keluarga. Lebih lanjut, kualitas interaksi sosial antara anggota keluarga, terutama interaksi antara orang tua dan anaknya sangat penting dalam menentukan berhasil atau tidaknya keluarga dalam membina anak. Hasil binaan keluarga terhadap anak dapat tercermin dari interaksi atau sosialisasi yang dilakukan anak dalam lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat. Oleh sebab itu, sangatlah diharapkan adanya perhatian serius keluarga terhadap anaknya dan setiap perilaku dalam keluarga haruslah mengandung nilai- nilai edukatif sedemikian sehingga dapat berlangsung nuansa pembelajaran dalam lingkungan keluarga tersebut. Continue reading

Advertisements

Sungai Kehidupan: Suatu Pengingat Diri 

Semester ini saya mengikuti perkuliahan pendidikan sosial budaya (PSB). Dari namanya saja mungkin kita akan dengan mudah menebak kira- kira apa yang diajarkan atau dibahas pada mata kuliah ini. Ya, mata kuliah ini mrmbahas hal- hal seperti: (1) karakter dan pendidikan, (2) komunikasi sosialisasi, (3) manusia dan peradabannya, dan (4) kepemimpinan. Pertama kali mendengar PSB jujur saya menganggap pembelajaran akan membosankan. Nah, pada suatu hari saya bertanya (baca: kepo) kepada teman sekelas yang sudah mengambil mata kuliah PSB dengan dosen yang sama seperti yang akan mengajar kelas yang akan saya ikuti. ” Eh, Ta, gimana ya pelajaran PSB sama Bu X (nama dirahasiakan), asik nggak?, enak nggak? ngasih nilainya gimana?”. Heheheh seperti penyelidik aja ya pertanyaaan saya. Ya harap maklum kawan- kawan. Saya ini tipe orang yang sering “ngepoin” dosen/guru yang akan/sedang mengampu mata kuliah yang saya ikuti. Mulai dari asalnya mana, lulusan mana, karyanya apa, dll. Hehe, maafkeun saya ya Bapak/ Ibu dosen. Eh kok ceritanya kemana- mana ya jadinya. Balik lagi ke cerita utama. Setelah aku menanyakan hal seperti itu pada Ita (teman sekelas), dia menjawab “Ehm, cara mengajar Ibunya enak kok, jelas. Soalnya Ibunya udah berpengalaman dan udah Doktor. Pembelajarannyapun lebih berfokus pada pendekatan berbasis masalh. Terus banyak cerita- ceritanya yang menginspirasi. Asiklah pokoknya dan ngasih nilainya juga enak.” Ehmmm jadi penasaran saya. Apakah benar yang dikatakan teman saya ini. Akan saya buktikan. Hahahaha (ketawa mulu deh dari tadi :).
Continue reading

Sepenggal Rahasia Perjalanan Hidupku

Masa kanak- kanak adalah masa dimana kita bebas bermain, bebas untuk jajan (permen, es krim, mainan, dll), tidak memikirkan tugas- tugas sekolah yang banyak dan sepertinya masa kanak- kanak adalah masa yang masih terbebas sama yang namanya masalah. Lalu bagaimana dengan kehidupanku saat masa kanak- kanak? Apakah sama seperti layaknya kehidupan anak- anak lain semasa kanak- kanak? Ya kehidupanku saat masih kanak- kanak sama seperti layaknya kehidupan kanak- kanak lain. Lalu apa yang menjadi perbedaannya?. Omelan, cubitan, dan jeweran mamak selalu ada setiap hari saat masa kanak- kanakku. Bahkan percaya atau tidak sampai sekarang masih ada bekas cubitan itu di pahaku. Mamak melakukan hal itu karena aku membandel, tidak mendengar nasehatnya, bangun kesiangan, telat mandi, tidak mau membereskan tempat tidur, tidak mau menyapu lantai dan halaman rumah, dan jenis kenakalanku lainnya. Jadi tidak mengherankan kalau saat itu pasti dapat dipastikan aku akan menangis setiap hari sebagai akibat kenakalanku yang juga aku lakukan setiap hari. Bahwa saat kanak- kanak aku hanya memiliki satu mainan yaitu sebuah robot- robotan. Kalau mau mainan ya mainannya yang tidak menggunakan robot- robotan dan sejenisnya. Paling ya mainan petak umpet, gobak sodor, polisi- polisian, bal- balan (sepak bola) dan jenis permainan tradisional lainnya. Jadi masa kanak- kanakku adalah masa untuk bermain dan menangis ria akibat “kejahatan” mamak padaku. Pada masa kanak- kanak, mamak dan bapak juga mendisiplinkanku dalam hal bertata krama (unggah- ungguh), seperti bagaimana cara menghargai orang lain dan bertindak. Mamak dan bapak juga berpesan bahwa tata karma harus tetap dijaga sampai meninggal.
Continue reading