Siapa Musuh Terbesar Saya?

Jika teman-teman bertanya pada saya mengenai siapa yang menjadi musuh terbesar saya, maka saya akan menjawab bahwa yang menjadi musuh terbesar saya itu adalah diri saya sendiri. Kok bisa? Continue reading

Advertisements

Refleksi: Perkuliahan Semester 7

Lega. Itulah hal yang pertama kali aku rasakan pada hari Jumat, 19 Januari 2018 pukul 23.44. Bagaimana tidak, akhirnya aku bisa submit tugas akhir mata kuliah kapita selekta yang berupa paper hasil kajian. Fyi due date-nya pukul 23.55 WIB. Haha mepet banget coy. Ra urus sing penting ra telat olehe numpuk. Dan… akhirnya secara resmi hal- hal yang menyangkut perkuliahan di semester 7 ini dinyatakan berakhir. Alhamdulillah. Tinggal menunggu hasilnya. Semoga tidak mengecewakan. Continue reading

Benarkah itu Ambisiku?

Saat kecil mungkin sudah menjadi suatu keumuman kalau aku mencita- citakan untuk menjadi seorang dokter. Meskipun sebenarnya saat itu aku belum terlalu paham siapa dan apa itu dokter. Entah “guna- guna” apa yang menyebabkan anak- anak kecil (seperti saya) mempikan hal terasebut. Faktor dari lingkungan, kah, karena hanya mengikuti teman, kah, atau karena orang tua yang selalu menyebutkan doanya agar anaknya kelak jadi dokter. Ya, mungkin saja salah satu dari yang telah aku sebutkan tadi merupakan “guna- guna” yang aku maksud.

Yang ingin aku tekankan pada tulisanku kali ini adalah mengenai sumber ambisi yang selama ini aku miliki. Apakah memang ambisiku berasal dari diriku sendiri dan merupakan kebutuhanku atau berasal dari luar yang bisa berupa bentuk/ wujud tanggungjawab seorang anak kepada orang tuanya atau bisa jadi berasal dari pengaruh orang sekitar/ teman/ lingkungan yang pada dasarnya faktor “gengsi” lah yang membentuk ambisiku. So, let me explain it clearly.

Sejujurnya, aku merasa kalau yang meenyebabkan munculnya ambisi dalam diriku adalah lebih cenderung karena faktor eksternal bukan faktor internal. Faktor eksternal yang aku maksud di sini adalah orang tua, teman, dan lingkungan sekitar.

Sebenarnya kalau boleh jujur (ya boleh 🙂 ), aku bukanlah orang yang terlalu berambisi untuk mengejar popularitas, kekayaan, penghargaan, atau sejenisnya. Aku hanya menginginkan kedamaian, ketenangan, mengikuti aliran air tapi tidak ikut terhanyut. Mungkin bagi kebanyakan orang, orang yang tidak mempunyai ambisi itu adalah orang yang tidak punya target dalam hidup, tidak punya semangat hidup, dan bisa dikatakan hidupnya pasti “datar- datar” saja. Ya, mungkin yang meraka pikirkan merupakan suatu kebenaran, tapi menurutku kebenarannya tidak bisa digeneralisasikan.

Entah sampai kapan aku harus berambisi karena faktor dari luar diriku. Apakah sampai aku menemukan diriku yang sesungguhnya? Apakah hingga aku menjadi dewasa? Entahlah. Intinya, aku masih berusaha untuk menjadikan ambisiku (kalau aku berambisi) berasal dari dalam diriku sendiri, murni benar- benar murni . Semoga 🙂