Teorema Akar Rasional

Sering kali kita merasa mudah untuk mengatakan suatu bilangan termasuk rasional atau irrasional. Tapi, ketika ditanya alasan kita mengapa kita memilih rasional (atau irrasional), sering kita menjadi bingung sendiri (karena tidak bisa membuktikan). Dengan mempelajari teorema akar rasional ini, diharapkan kita tidak hanya dapat menentukan suatu bilangan termasuk rasional atau irrasional, tetapi juga dapat membuktikan bahwa jawaban kita tersebut benar.

Nah, berikut ini adalah materi (singkat) mengenai teorema akar rasional.

File di atas dapat didownload disini
Semoga bermanfaat :).

Advertisements

Soal dan Jawab tentang Penilaian (Assessment)

Mengapa perlu dilaksanakan penilaian (assessment)?

Berdasarkan Permen no.20 tahun 2007 (Standar Penilaian Pendidikan), PP no.19 tahun 2005 (Standar Nasional Pendidikan), Permendikbud no.23 tahun 2016 (Standar Penilaian Pendidikan), dan Permendikbud no.53 tahun 2015, penilaian adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik. Bagi pendidik, penilaian digunakan untuk mengetahui capaian belajar peserta didik dalam aspek sikap, pengetahuan dan keterampilan. Dengan mengetahui capaian belajar peserta didik, pendidik (diharapkan) dapat memantau proses, kemajuan belajar dan perbaikan hasil belajar secara berkesinambungan. Selanjutnya, bagi satuan pendidikan, penilaian sendidiri ditujukan untuk menilai pencapaian SKL (Standar Kompetensi Lulusan) untuk semua mata pelajaran, memetakan mutu pendidikan dan membuat kebijakan- kebijakan. Terkhir, bagi pemerintah, penilaian ditujukan untuk menilai pencapaian kompetensi lulusan secara nasional pada mata pelajaran tertentu dan untuk membuat kebijakan- kebijakan.

Aspek apa yang (harus) dinilai?

Berdasarkan Permendikbud no.23 tahun 2016 (Standar Penilaian Pendidikan), dan Permendikbud no.53 tahun 2015, yang harus dinilai pada diri peserta didik adalah: (1) aspek sikap (informasi deskriptif mengenai perilaku peserta didik), (2) aspek pengetahuan (mengukur penguasaan pengetahuan peserta didik) dan (3) aspek keterampilan (mengukur kemampuan peserta didik menerapkan pengetahuan dalam melaksanakan tugas tertentu).

Apa dasar hukum melaksanakan penilaian?

Dasar hukum melaksanakan penilaian adalah: (1) UU no.20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, (2) Permendiknas no.20 tahun 2007 tentang standar penilaian pendidikan, (3) PP no.19 tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan, (4) Permendikbud no.53 tahun 2015 tentang penilaian hasil hasil belajar oleh pendidik dan satuan pendidikan pada pendidikan dasar dan menengah, (5) Permendikbud no.23 tahun 2016 tentang standar penilaian pendidikan, (6) Permen tentang pelaksanaan penilaian, petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis penilaian.

Kapan guru (pendidik) melaksanakan penilaian?

Berdasarkan lampiran Permendikbud no. 104 tahun 2014 (tentang penilaian hasil belajar oleh pendidik pada pendidikan dasar dan pendidikan menengah), diperoleh berbagai jenis penilaian dan waktu pelaksanaannya.

Jenis Penilain

Waktu Pelaksananaan

Ulangan Harian Setiap akhir pembelajaran suatu kompetensi dasar (KD) atau beberapa bagian KD
Ujian Tengah Semester Pada minggu ke- 7 suatu semester
Ujian Akhir Semester Pada akhir suatu semester
Ujian Sekolah Pada akhir tahun belajar satuan pendidikan
Penilaian Proses Selama proses pembelajaran sepanjang tahun ajaran
Penilaian Diri Pada akhir setiap semester

Siapa yang dinilai?

Yang dinilai adalah peserta didik. Berdasarkan UU no.20 tahun 2003, yang dimaksud peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang dan jenis pendidikan tertentu.

Bagaimana cara melaksanakan penilaian?

Kalimat Efektif

Kalimat efektif adalah kalimat yang mampu mengungkapkan gagasan penulis atau penutur sedemikian sehingga dapat dipahami dengan baik oleh pembaca atau pendengar. Suatu kalimat dikatan efektif jika: (1) menggunakan tata aturan ejaan yang berlaku, (2) menggunakan diksi yang tepat, (3) menggunakan kesepadanan antara struktur bahasa dan jalan pikiran yang logis dan sistematis, (4) menggunakan kesejajaran bentuk bahasa yang dipakai, (5) mengacu pada kehematan penggunaan kata, dan (6) menggunakan variasi struktur kata. Lebih lanjut lagi, ada beberapa aspek untuk menyusun kalimat efektif. Aspek- aspek- aspek tersebut antara lain: (1) kelogisan, (2) keparalelen, (3) ketegasan, (4) kehematan, (5) ketepatan, (6) kecermatan, (7) kepaduan, dan (8) keharmonisan.

(1) Kelogisan
Bahwa untuk menjadi kalimat efektif, ide dari kalimat harus dapat diterima oleh akal dan penulisannya harus sesuai dengan tata aturan ejaan yang berlaku.
(2) Keparalelan
Bahwa jika kita ingin menyusun suatu kalimat majemuk setara rapatan menjadi kalimat efektif, maka predikat kalimat tersebut harus paralel. Ini berarti, jika predikatnya berupa kata kerja, maka predikat yang lainnya juga berupa kata kerja.
(3) Ketegasan
Bahwa dalam suatu kalimat efektif, unsur- unsur yang ingin ditonjolkan (ditekankan) biasanya diletakkan diawal kalimat. Selain itu, jika ingin menyatakan suatu urutan, haruslah dibuat urutan kata yang bertahap.
(4) Kehematan
Penggunaan kata- kata secara hemat adalah salah satu syarat yang harus terpenuhi agar kalimat yang terbentuk menjadi kalimat efektif. Bahwa penghematan penggunaan kata- kata tersebut dilakukan dengan tanpa mengurangi makna atau informasi dari kalimat tersebut. Cara yang dapat digunakan untuk menghemat penggunaan kata adalah menghilangkan pengulangan subjek yang sama pada anak kalimat dan menghindari pemakaian superordinat pada hiponim kata dan kesinoniman kata dalam kalimat.
(5) Ketepatan
Untuk membentuk kalimat efektif, perlu diperhatikan dalam pemilihan kata. Pilihan kata (diksi) yang digunakan haruslah tepat, kata berpasangan harus sesuai dan menghindari peniadaan preposisi.
(6) Kecermatan
Bahawa dengan pemilihan kata yang tepat, diharapkan kalimat yang tersusun tidak menimbulkan multitafsir. Oleh karena itu sebaiknya hindari hal- hal seperti:
penanggalan awal, peluluhan bunyi /c/, bunyi /s/, /p/, /t/, dan /k/ yang tidak luluh, dan pemakaian kata yang ambigu.
(7) Kepaduan
Kalimat efektif dikatakan padu jika informasi yang disampaikan melalui kalimat tersebut tidak terpecah- pecah. Untuk menyusun kalimat yang padu sebaiknya kalimat tersebut disusun secara sistematis dan diantara predikat kata kerja objek penderita tidak disisipkan kata daripada/ tentang.
(8) Keharmonisan
Jika setiap kalimat yang disusun harus harmonis antara pola pikir dan struktur bahasa.

Daftar Pustaka
Resmini, N. Kalimat Efektif.[Online]. Tersedia: http://file.upi.edu/Direktori /FPBS/JUR._PEND._BHS._DAN_SASTRA_INDONESIA/196711031993032-NOVI_RESMINI/KALIMAT_EFEKTIF.pdf [September 2016].

Widyaningsih, N.Kalimat dalam Bahasa Indonesia. [Online]. Tersedia: http://lecturer.ukdw.ac.id/othie/PengertianKalimat.pdf [14 September 2016].