Tentang Pilihan

Dalam hidup, kita bebas untuk memilih apa yang kita inginkan termasuk memilih tempat untuk “ngudi kawruh.” Dulu pernah memilih kota Surabaya sebagai tempat tujuan untuk “ngudi kawruh.” Tapi apa daya, kota Pahlawan tidak mengizinkan diri ini untuk menyinggahinya.

Bingung. Entah adakah kota yang sudi untuk ku singgahi sejenak? Ternyata Yogyakarta sudi menerimaku meskipun saat itu aku abai dengan kota ini. Memang benar, saat kuasa-Nya, alam semesta, dan ridha orang tua telah berkonspirasi, tak ada daya lagi diri ini untuk melawannya. Continue reading

Advertisements

Tentang Perjalanan

Terkadang, perjalanan akan mengajak diri ini untuk melangkah pergi menuju destinasi yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Pernah saya bertanya pada diri sendiri “kok bisa ya aku di sini, di tempat yang bahkan tidak pernah aku tahu dan aku bayangkan sebelumnya?” atau “Kok aku tiba-tiba bisa sampai di tahap ini, padahal aku merasa tidak pantas untuk sampai di tahap ini.”

Continue reading

Sementara Semua Rasa Bisa Kita Cipta

Mengapa takut pada lara
Sementara semua rasa bisa kita cipta
Akan selalu ada tenang
Di sela-sela gelisah yang menunggu reda

Tahu dong ya bahwa penggalan lirik di atas adalah penggalan lirik lagu di Atas Meja-nya Payung Teduh. Nah, pada kesempatan kali ini saya tertarik untuk “mengulik” penggalan lirik tersebut.  Continue reading

Siapa Musuh Terbesar Saya?

Jika teman-teman bertanya pada saya mengenai siapa yang menjadi musuh terbesar saya, maka saya akan menjawab bahwa yang menjadi musuh terbesar saya itu adalah diri saya sendiri. Kok bisa? Continue reading

Mengartikan Pulang dan Rumah

After a long long walk
I finally found my way
After a long long time
I finally found my place

Warm hug is a home
I’ve found that I belong here
Warm hug is a home
I knew that I belong here

Lirik lagu Home yang diciptakan oleh Band Mocca di atas bagi saya adalah tentang kisah panjang dalam menemukan rumah—tempat untuk pulang—yang sesungguhnya. Setelah memenempuh perjalanan panjang dalam waktu yang tidak sebentar pula, pada saatnya kita akan menemukan jalan dan tempat kita yang sebenarnya. Yups, kata “tempat” yang dimaksud disini adalah rumah, sedangkan yang dimaksud dengan “jalan” adalah ya jalan pulang untuk kembali ke rumah itu sendiri. Rumah adalah tempat di mana kita merasakan pelukan hangat. Di rumah kita merasa memiliki dan dimiliki.

Lalu, apa to arti “rumah” bagi saya? Ya, rumah tak selalu tentang bangunan yang nyaman untuk dihuni. Rumah bagi saya bisa berupa keluarga, orang tua, ataupun sahabat. Ketika bersama dengan keluarga, orang tua, ataupun sahabat saya selalu merasa tenang. Saya merasa bahwa mereka selalu ada untuk saya. Mereka selalu ada di saat saya “terjatuh”.

Bagi Bung Fiersa Besari, pulang adalah selalu tentang Ibu. Pun demikian dengan saya. Pulang adalah selalu tentang melepas kerinduan dengan Bapak dan Mamak. Berada di dekatnyalah selalu membuat rasa untuk membahagiakannya semakin menjadi. Bagi saya, pulang dan rumah adalah selalu tentang melepas sesak di dada dan mengisi baterai semangat menghadapi hidup yang terkadang berkurang secara cepat.

Nah, itulah sedikit cerita tentang arti pulang dan rumah menurut saya. Bagimu apa arti pulang dan rumah?

Stay hungry and stay foolish 🙂

 

Bukankah Hidup untuk Dinikmati?

Terkadang bagiku menjalani suatu kegiatan yang belum biasa aku lakukan itu adalah hal yang berat. Yang dimaksud berat dalam hal ini adalah berat untuk membiasakan diri. Kalau dalam menjalani kegiatan tersebut terasa berat, arahnya tidak lain tidak bukan adalah aku kurang bisa menikmati kegiatan yang aku lakukan, aku kurang ikhlas atau bahkan tidak ikhlas dalam melakukan kegiatan yang sedang kujalani tersebut. Ada waktu di mana aku berbicara dan bertanya pada diri ini — “Hei… bukankah hidup harus dinikmati? Bukankah kamu harus ikhlas dalam melakukan hal yang (sedang) kamu lakukan?” Continue reading

Benarkah itu Ambisiku?

Saat kecil mungkin sudah menjadi suatu keumuman kalau aku mencita- citakan untuk menjadi seorang dokter. Meskipun sebenarnya saat itu aku belum terlalu paham siapa dan apa itu dokter. Entah “guna- guna” apa yang menyebabkan anak- anak kecil (seperti saya) mempikan hal terasebut. Faktor dari lingkungan, kah, karena hanya mengikuti teman, kah, atau karena orang tua yang selalu menyebutkan doanya agar anaknya kelak jadi dokter. Ya, mungkin saja salah satu dari yang telah aku sebutkan tadi merupakan “guna- guna” yang aku maksud.

Yang ingin aku tekankan pada tulisanku kali ini adalah mengenai sumber ambisi yang selama ini aku miliki. Apakah memang ambisiku berasal dari diriku sendiri dan merupakan kebutuhanku atau berasal dari luar yang bisa berupa bentuk/ wujud tanggungjawab seorang anak kepada orang tuanya atau bisa jadi berasal dari pengaruh orang sekitar/ teman/ lingkungan yang pada dasarnya faktor “gengsi” lah yang membentuk ambisiku. So, let me explain it clearly.

Sejujurnya, aku merasa kalau yang meenyebabkan munculnya ambisi dalam diriku adalah lebih cenderung karena faktor eksternal bukan faktor internal. Faktor eksternal yang aku maksud di sini adalah orang tua, teman, dan lingkungan sekitar.

Sebenarnya kalau boleh jujur (ya boleh 🙂 ), aku bukanlah orang yang terlalu berambisi untuk mengejar popularitas, kekayaan, penghargaan, atau sejenisnya. Aku hanya menginginkan kedamaian, ketenangan, mengikuti aliran air tapi tidak ikut terhanyut. Mungkin bagi kebanyakan orang, orang yang tidak mempunyai ambisi itu adalah orang yang tidak punya target dalam hidup, tidak punya semangat hidup, dan bisa dikatakan hidupnya pasti “datar- datar” saja. Ya, mungkin yang meraka pikirkan merupakan suatu kebenaran, tapi menurutku kebenarannya tidak bisa digeneralisasikan.

Entah sampai kapan aku harus berambisi karena faktor dari luar diriku. Apakah sampai aku menemukan diriku yang sesungguhnya? Apakah hingga aku menjadi dewasa? Entahlah. Intinya, aku masih berusaha untuk menjadikan ambisiku (kalau aku berambisi) berasal dari dalam diriku sendiri, murni benar- benar murni . Semoga 🙂