Tentang Perjalanan

Terkadang, perjalanan akan mengajak diri ini untuk melangkah pergi menuju destinasi yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Pernah saya bertanya pada diri sendiri “kok bisa ya aku di sini, di tempat yang bahkan tidak pernah aku tahu dan aku bayangkan sebelumnya?” atau “Kok aku tiba-tiba bisa sampai di tahap ini, padahal aku merasa tidak pantas untuk sampai di tahap ini.”

Continue reading

Advertisements

Sementara Semua Rasa Bisa Kita Cipta

Mengapa takut pada lara
Sementara semua rasa bisa kita cipta
Akan selalu ada tenang
Di sela-sela gelisah yang menunggu reda

Tahu dong ya bahwa penggalan lirik di atas adalah penggalan lirik lagu di Atas Meja-nya Payung Teduh. Nah, pada kesempatan kali ini saya tertarik untuk “mengulik” penggalan lirik tersebut.  Continue reading

Siapa Musuh Terbesar Saya?

Jika teman-teman bertanya pada saya mengenai siapa yang menjadi musuh terbesar saya, maka saya akan menjawab bahwa yang menjadi musuh terbesar saya itu adalah diri saya sendiri. Kok bisa? Continue reading

Mengartikan Pulang dan Rumah

After a long long walk
I finally found my way
After a long long time
I finally found my place

Warm hug is a home
I’ve found that I belong here
Warm hug is a home
I knew that I belong here

Lirik lagu Home yang diciptakan oleh Band Mocca di atas bagi saya adalah tentang kisah panjang dalam menemukan rumah—tempat untuk pulang—yang sesungguhnya. Setelah memenempuh perjalanan panjang dalam waktu yang tidak sebentar pula, pada saatnya kita akan menemukan jalan dan tempat kita yang sebenarnya. Yups, kata “tempat” yang dimaksud disini adalah rumah, sedangkan yang dimaksud dengan “jalan” adalah ya jalan pulang untuk kembali ke rumah itu sendiri. Rumah adalah tempat di mana kita merasakan pelukan hangat. Di rumah kita merasa memiliki dan dimiliki.

Lalu, apa to arti “rumah” bagi saya? Ya, rumah tak selalu tentang bangunan yang nyaman untuk dihuni. Rumah bagi saya bisa berupa keluarga, orang tua, ataupun sahabat. Ketika bersama dengan keluarga, orang tua, ataupun sahabat saya selalu merasa tenang. Saya merasa bahwa mereka selalu ada untuk saya. Mereka selalu ada di saat saya “terjatuh”.

Bagi Bung Fiersa Besari, pulang adalah selalu tentang Ibu. Pun demikian dengan saya. Pulang adalah selalu tentang melepas kerinduan dengan Bapak dan Mamak. Berada di dekatnyalah selalu membuat rasa untuk membahagiakannya semakin menjadi. Bagi saya, pulang dan rumah adalah selalu tentang melepas sesak di dada dan mengisi baterai semangat menghadapi hidup yang terkadang berkurang secara cepat.

Nah, itulah sedikit cerita tentang arti pulang dan rumah menurut saya. Bagimu apa arti pulang dan rumah?

Stay hungry and stay foolish 🙂

 

Bukankah Hidup untuk Dinikmati?

Terkadang bagiku menjalani suatu kegiatan yang belum biasa aku lakukan itu adalah hal yang berat. Yang dimaksud berat dalam hal ini adalah berat untuk membiasakan diri. Kalau dalam menjalani kegiatan tersebut terasa berat, arahnya tidak lain tidak bukan adalah aku kurang bisa menikmati kegiatan yang aku lakukan, aku kurang ikhlas atau bahkan tidak ikhlas dalam melakukan kegiatan yang sedang kujalani tersebut. Ada waktu di mana aku berbicara dan bertanya pada diri ini — “Hei… bukankah hidup harus dinikmati? Bukankah kamu harus ikhlas dalam melakukan hal yang (sedang) kamu lakukan?” Continue reading

Benarkah itu Ambisiku?

Saat kecil mungkin sudah menjadi suatu keumuman kalau aku mencita- citakan untuk menjadi seorang dokter. Meskipun sebenarnya saat itu aku belum terlalu paham siapa dan apa itu dokter. Entah “guna- guna” apa yang menyebabkan anak- anak kecil (seperti saya) mempikan hal terasebut. Faktor dari lingkungan, kah, karena hanya mengikuti teman, kah, atau karena orang tua yang selalu menyebutkan doanya agar anaknya kelak jadi dokter. Ya, mungkin saja salah satu dari yang telah aku sebutkan tadi merupakan “guna- guna” yang aku maksud.

Yang ingin aku tekankan pada tulisanku kali ini adalah mengenai sumber ambisi yang selama ini aku miliki. Apakah memang ambisiku berasal dari diriku sendiri dan merupakan kebutuhanku atau berasal dari luar yang bisa berupa bentuk/ wujud tanggungjawab seorang anak kepada orang tuanya atau bisa jadi berasal dari pengaruh orang sekitar/ teman/ lingkungan yang pada dasarnya faktor “gengsi” lah yang membentuk ambisiku. So, let me explain it clearly.

Sejujurnya, aku merasa kalau yang meenyebabkan munculnya ambisi dalam diriku adalah lebih cenderung karena faktor eksternal bukan faktor internal. Faktor eksternal yang aku maksud di sini adalah orang tua, teman, dan lingkungan sekitar.

Sebenarnya kalau boleh jujur (ya boleh 🙂 ), aku bukanlah orang yang terlalu berambisi untuk mengejar popularitas, kekayaan, penghargaan, atau sejenisnya. Aku hanya menginginkan kedamaian, ketenangan, mengikuti aliran air tapi tidak ikut terhanyut. Mungkin bagi kebanyakan orang, orang yang tidak mempunyai ambisi itu adalah orang yang tidak punya target dalam hidup, tidak punya semangat hidup, dan bisa dikatakan hidupnya pasti “datar- datar” saja. Ya, mungkin yang meraka pikirkan merupakan suatu kebenaran, tapi menurutku kebenarannya tidak bisa digeneralisasikan.

Entah sampai kapan aku harus berambisi karena faktor dari luar diriku. Apakah sampai aku menemukan diriku yang sesungguhnya? Apakah hingga aku menjadi dewasa? Entahlah. Intinya, aku masih berusaha untuk menjadikan ambisiku (kalau aku berambisi) berasal dari dalam diriku sendiri, murni benar- benar murni . Semoga 🙂

Flashback (1): Masa SMA

Image

Mungkin bagi kebanyakan orang (yang pernah mengenyam pendidika jenjang SMA), masa SMA adalah masa yang paling indah (dalam hal? I don’t know). Mengapa zaman paling indah? Ya, kalau dengar- dengar dari orang- orang sih masa SMA adalah masa di mana tumbuh benih- benih cinta antardua insan (Ea ea). Nggak nyambung kan ya? Emang. Sudah lupakan. 

Langsung saja lah ke  point cerita. Jadi begini teman- teman. Masa SMA itu menurutku sih masa- masa yang biasa- biasa saja.  Why? Ya karena pas SMA kegiatanku hanya sekolah pulang sekolah pulang sekolah pulang. Nggak ikut organisasi/ekstrakulikuler sekolah (misal: OSIS, pramuka, english club)? Nggak. Bukan karena aku anak ansos (baca: antisosial) tapi teman- teman tahu lah kalau orang introvert itu seperti apa. Selain itu pas SMA yang aku pikirkan adalah hanya bagaimana caranya aku tidak mengecewakan orang tua, dan caranya adalah dengan fokus dan giat belajar. Mamak pernah bilang padaku kalau aku nggak usah ikut organisasi- organisasi yang bisa jadi malah mengganggu sekolahku. Ya aku nurut saja. Lha wong sing penting aku nurut, mamak bapakku seneng? Anak mamak? Terserah I don’t care anymore what people judge about me. Hahaha.

O Iya aku teringat dulu pas musim penghujan, sawah milik mbahku (yang diolah bapak) ditanami jagung. Setelah subuh dan sebelum berangkat sekolah aku harus ke sawah terlebih dahulu untuk menyiangi rumput- rumput yang mulai tumbuh besar dan mengganggu pertumbuhan tanaman jagung. Sekitar jam setengah 7 aku pulang ke rumah dan siap- siap berangkat ke sekolah. Supaya aku tidak telat pulangnya aku bawa hp bapak untuk melihat jam (Fyi: aku baru punya HP setelah aku kuliah, itupun dibelikan bapak supaya komunikasi kami tetap berjalan meski hanya lewat SMS ataupun telepon). Aku sekolah hanya sampai jam 2 siang. Terus pulang. Istirahat sejenak+ makan. Sehabis ashar, aku, mamak, bapak ke sawah untuk menyiangi rumput sampai menjelang maghrib. 

Terkadang aku merasa rindu dengan masa- masa itu. Masa- masa yang tenang; tidak banyak hal yang dipikirkan; ke sawah; menyiangi rumput; menyirami tanaman kangkung, cabai; menanam kedelai dan jagung sampai membuat punggung ini serasa pengin copot karena menunduk dari pagi hingga sore; ngarit pari dll. Kangen masa berkumpul di gubug sawah saat musim panen tiba dan nge teh bersama. Hua hua hua…. pengin kembali ke masa lalu (such an impossible thing to be true).