Ketika terlena dengan kemudahan

Perkembangan teknologi yang semakin cepat akan memudahkan sesorang untuk memperoleh (segala) informasi yang mereka perlukan. Salah satu pihak yang diuntungkan oleh pesatnya perkembangan teknologi adalah pelajar (secara sempit: siswa/ mahasiswa). Mereka bisa mengakses internet untuk memperoleh bahan untuk belajar, mengerjakan tugas/pr, menemukan referensi untuk membuat paper/artikel/ makalah. Tetapi yang sangat disayangkan adalah mereka malah menjadi terlena dengan kemudahan dalam mengakses sumber belajar dalam internet. Mengapa bisa saya katakan terlena? Jawabannya adalah karena mereka (mungkin termasuk saya) menjadi “malas” untuk benar- benar memahami suatu materi yang diperoleh dari internet dan/atau lupa akan sikap menghargai ide/ gagasan/ karya orang lain. Mereka terlena untuk meng- copy and then paste karya orang lain tanpa melakukan sitasi atau tidak menuliskan daftar pustaka. 

(Tampar diri sendiri supaya menjadi sadar 🙂 )

Disisi lain tidak jarang ada beberapa orang yang sebenarnya memiliki akses internet tapi sayangnya belum bisa mengoptimalkannya sebagai source yang powerful  untuk memperoleh pengetahuan disamping buku cetak dan guru/dosen. Yang saya maksud dengan belum bisa mengoptimalkan pengguanaan internet adalah semisal tidak paham dengan materi X, E daripada “buang- buang” kuota internet mending tanya ke teman. Hehehe. Lebih lanjut, terkadang yang membuat saya heran adalah kadang mereka mempertanyakan suatu hal kepada orang lain/ temannya terkait hal yang sebenarnya jawabannya itu pasti ada di internet atau buku. Sebegitu engannya kah untuk berusaha sendiri dulu untuk memperoleh jawab dari suatu permasalahan? (Edisi merenungi fenomena seperti ini). 

Ketika saya SD (baca: sekolah dasar), saya diberi PR oleh Bapak/ Ibu guru. Sering saya minta Mamak untuk membantu mengerjakan PR saya. “Mak, sing nomer 1 jawabanne opo yo Mak?”. Jawaban mamak pun selalu sama ketika aku menanyakan hal demikian. “Woco dhisik ringkasan materine, dipahami, ojo sithik- sithik takon, sithik- sithik takon. Lha materine wae rung diwoco kok wis takon jawabane opo.” Hiks saya hanya diam saja dan menundukkan kepala takut mamak semakin marah kalau aku tanya lagi hal yang serupa. Karena sudah merasa bosen dengan omelan Mamak seperti itu, akhirnya saya dengan berat hati (baca: terpaksa) setiap ada PR untuk mengerjakan soal- soal di SUKSES (Fyi: zaman SD saya dulu, LKS yang kami gunakan bernama SUKSES. Kami biasa menyebutnya dengan nama demikian dibanding menyebutnya LKS). Ya kadang- kadang mamak juga membantu sih kalau memang saya sudah membaca dan memahami materi dan ringkasan materi tetapi “mentok” tidak bisa mengerjakan suatu soal. Nilai dari mamak inilah akhirnya saya “pegang” dan dijadikan prinsip sampai saat ini. Ketika ada materi yang belum saya pahami, saya berusaha mencari referensi yang lain yang bisa saya dapatkan dari internet atau buku di perpustakaan sekolah/ kampus. Bukan bermaksud untuk menyombongkan diri atau merasa diri ini yang paling benar, tetapi saya bermaksud untuk berbagi pengalaman serta mencurahkan apa yang selama ini ada di dalam pikiran saya.

Bertanya kepada orang lain/ teman merupakan salah satu cara yang cukup efektif dalam memahami suatu materi/ informasi. Tidak sedikit siswa yang lebih paham terhadap suatu materi jika dijelaskan oleh temannya di banding gurunya. Hal inilah kadang yang membuat siswa tersebut tak jarang bertanya kepada teman yang duduk di sebelahnya (depan, belakang, samping kanan atau samping kiri) terkait materi yang disampaikan telah disampaikan oleh guru/ dosen. Saya berpikir jika yang mereka lakukan sah- sah saja selama: a) guru/ dosen sedang menyampaikan suatu materi; b) tidak mengganggu teman yang lain atau membuat kegaduhan; c) teman yang ditanyai bersedia menjelaskan/ menjawab pertanyaannya; d) dilakukan di saat yang tepat (misal: waktu guru memberikan kesempatan berdiskusi atau kerja kelompok). Bagi saya, merupakan suatu ketidaknyamanan ketika ada teman yang bertanya (banyak) saat guru sedang menjelaskan/ memaparkan suatu materi. Lagi, bukan karena saya pelit ilmu atau tidak mau ditanyai, tetapi lebih cenderung ke kenyataan pada diri saya, bahwa saya ini tipe orang yang memerlukan fokus yang ekstra untuk dapat memahami suatu materi. Berbeda dengan teman- teman saya yang lain yang bisa membagi fokusnya untuk diberikan kepada penjelasan guru dan petanyaan teman serta memikirkan jawaban untuk temannya tersebut. Bagi saya, saya lebih nyaman ketika ditanyai suatu materi sekolah/ kuliah ketika berada di luar kelas (di luar proses belajar mengajar). O iya saya jadi ingat cerita adik tingkat yang bilang kalau dia sering bertanya kepada temannya saat PBM berlangsung dan guru/ dosen sedang menjelaskan. Dia bercerita kalau si temannya tersebut menjawab yang kurang lebih seperti ini :”*** sudah- sudah jangan hancurkan konstruktivisme ku.” Dari tanggapan inilah saya bisa mengatakan jika temannya tersebut terlebih dahulu ingin memahami suatu materi dengan cara mengkonstruk pengetahuannya sendiri. Dia merasa terganggu dengan pertanyaan yang diajukan oleh temannya tersebut. 

Dengan munculnya handphone android dengan dilengkapi fitur kamera yang berkualitas baik tentu akan memudahkan siswa/ mahasiswa dalam hal menyimpan materi pelajaran yang disampaikan oleh guru/dosen. Saat guru/dosen menuliskan penjelasannya di papan tulis atau menampilkannya di layar dengan PowerPoint, beberapa siswa mungkin akan lebih memilih memfoto penjelasan/materi tersebut daripada menuliskannya di buku mereka. Tidak menjadi masalah sih jika materi yang telah difoto tersebut dituliskan ulang dengan “bahasa” mereka sendiri di bukunya. Hal ini tentu akan membuat proses belajar mengajar cukup efektif karena waktu pbm tidak dihabiskan hanya untuk sekadar menunggu siswa menyalin ulang materi yang diberikan oleh guru/ dosen. Atau cara lain yang mungkin dapat dilakukan guru/dosen untuk mengefektifkan pbm adalah memberikan handout/softfile PowerPoint sehingga siswa/mahasiswa hanya terfokus pada penjelasan guru/dosen dan tidak sibuk mencatat ketika guru/dosen sedang menjelaskan. Lanjut. Yang mungkin jadi masalah di sini adalah ketika siswa/ mahasiswa tidak mencatat kembali materi tersebut di buku tulisnya dengan “bahasa” mereka sendiri dan ujung- ujungnya hanya akan sekadar menghafal materi tersebut (baca: rote learning). Lebih parah lagi kalau foto- foto/handout/soft file PowerPoint yang berkaitan dengan materi hanya sekadar dijadikan “koleksi antik”. Hehehe. (Tampar diri sendiri lagi). Padahal, menurut salah satu dosen saya kalau pas zaman beliau kuliah itu harus bersusah payah mencatat kembali materi yang ada di buku pelajaran, sebab buku tersebut hanya buku pinjaman dari perpustakaan atau dari temannya. Terus saat dosen menjelaskan, beliau benar- benar memperhatikan penjelasan tersebut dan menuliskan hal- hal penting yang didapat dari penjelasan dosennya. Sesampainya dirumah beliau mempelajari ulang materi yang telah diperolehnya untuk memastikan jika beliau benar- benar paham terhadap materi tersebut. 

Dari cerita saya yang panjang ini, saya sadar jika kemudahan- kemudahan yang muncul akibat perkembangan teknologi ini bisa jadi membuat beberapa orang menjadi terlena. Saat terlena dengan kemudahan ini kadang menjadikan kita lupa dengan yang namanya “proses”, “perjuangan”, “kerja keras”, “semangat”, dan “disiplin”. (Tampar diri sendiri untuk kesekian kalinya 🙂 ). Cerita ini dimaksudkan sebagai pengingat diri saya sendiri (pada khususnya) dan pengingat teman- teman (pada umumnya) untuk tidak terlena dengan kemudahan. 

Sekian cerita saya ini. Semoga bermanfaat. Jika ada hal yang kurang berkenan dan tidak sependapat dengan teman- teman, just feel free to write your comment in the provided comment box. 

Advertisements

Flashback (1): Masa SMA

Image

Mungkin bagi kebanyakan orang (yang pernah mengenyam pendidika jenjang SMA), masa SMA adalah masa yang paling indah (dalam hal? I don’t know). Mengapa zaman paling indah? Ya, kalau dengar- dengar dari orang- orang sih masa SMA adalah masa di mana tumbuh benih- benih cinta antardua insan (Ea ea). Nggak nyambung kan ya? Emang. Sudah lupakan. 

Langsung saja lah ke  point cerita. Jadi begini teman- teman. Masa SMA itu menurutku sih masa- masa yang biasa- biasa saja.  Why? Ya karena pas SMA kegiatanku hanya sekolah pulang sekolah pulang sekolah pulang. Nggak ikut organisasi/ekstrakulikuler sekolah (misal: OSIS, pramuka, english club)? Nggak. Bukan karena aku anak ansos (baca: antisosial) tapi teman- teman tahu lah kalau orang introvert itu seperti apa. Selain itu pas SMA yang aku pikirkan adalah hanya bagaimana caranya aku tidak mengecewakan orang tua, dan caranya adalah dengan fokus dan giat belajar. Mamak pernah bilang padaku kalau aku nggak usah ikut organisasi- organisasi yang bisa jadi malah mengganggu sekolahku. Ya aku nurut saja. Lha wong sing penting aku nurut, mamak bapakku seneng? Anak mamak? Terserah I don’t care anymore what people judge about me. Hahaha.

O Iya aku teringat dulu pas musim penghujan, sawah milik mbahku (yang diolah bapak) ditanami jagung. Setelah subuh dan sebelum berangkat sekolah aku harus ke sawah terlebih dahulu untuk menyiangi rumput- rumput yang mulai tumbuh besar dan mengganggu pertumbuhan tanaman jagung. Sekitar jam setengah 7 aku pulang ke rumah dan siap- siap berangkat ke sekolah. Supaya aku tidak telat pulangnya aku bawa hp bapak untuk melihat jam (Fyi: aku baru punya HP setelah aku kuliah, itupun dibelikan bapak supaya komunikasi kami tetap berjalan meski hanya lewat SMS ataupun telepon). Aku sekolah hanya sampai jam 2 siang. Terus pulang. Istirahat sejenak+ makan. Sehabis ashar, aku, mamak, bapak ke sawah untuk menyiangi rumput sampai menjelang maghrib. 

Terkadang aku merasa rindu dengan masa- masa itu. Masa- masa yang tenang; tidak banyak hal yang dipikirkan; ke sawah; menyiangi rumput; menyirami tanaman kangkung, cabai; menanam kedelai dan jagung sampai membuat punggung ini serasa pengin copot karena menunduk dari pagi hingga sore; ngarit pari dll. Kangen masa berkumpul di gubug sawah saat musim panen tiba dan nge teh bersama. Hua hua hua…. pengin kembali ke masa lalu (such an impossible thing to be true).

Kadang Aku

Kadang…
Kadang aku mencemaskan sesuatu yang belum tentu terjadi
Kadang aku mencemaskan esok hari
Kadang aku mencemaskan masa depan

Kadang…
Kadang aku merasa diriku tak berarti
Kadang aku merasa diriku ini kecil sekali
kadang aku merasa diriku bukan siapa- siapa

Kadang…
Kadang aku ingin berlari dari kenyataan
Kadang aku ingin kembali ke masa lalu
Kadang aku ingin memaafkan kesalahanku di masa lalu

Kadang…
Kadang aku teringat masa lalu-ku
Kadang aku teringat siapa aku dahulu
Kadang aku teringat dukaku dahulu

Kadang…
Kadang aku ingin kembali menjadi diriku yang dahulu
Kadang aku ingin kembali merasakan kebahagiaanku yang dahulu
Kadang aku ingin memutar kembali waktu yang telah berlalu

Kadang…
Kadang aku ingin menepi
Kadang aku ingin menyepi
Kadang aku ingin menyendiri

Kadang…
Kadang aku ingin mengulang masa indah dahulu
Kadang aku ingin mengulang kesuksesanku yang dahulu
Kadang aku ingin mengembalikan senyumanku yang dahulu

Kadang…
Kadang aku ingin semuanya selesai
Kadang aku ingin segera pulang
Kadang aku ingin segera kembali

Top 10 Judul-judul Lagu Favorite

Lembayung Bali via arizulaicha.blogspot.com

Hey… kali ini saya memposting tentang daftar judul- judul lagu favorite saya. Kalau mau silahkan coba didengarkan lagunya (kalau belum punya, donlot dulu ya, heheh). Langsung saja yak.

Judul lagu/album- Band/penyanyi

  1. Desember- Efek Rumah Kaca
  2. Untuk Perempuan yang Sedang dalam Pelukan- Payung Teduh
  3. Tidurlah- Payung Teduh
  4. Lembayung Bali- Saras Dewi
  5. Crysan- Saras Dewi
  6. Dandelion (album)- Monita Tahale
  7. Lelaku (album)- Fourtwnty
  8. Pulang- Float
  9. Sementara- Float
  10. Surrender- Float

Nah itulah top 10 judul lagu/ album favorite saya. Fyi, lagu yang sering saya putar (baca: dengarkan) adalah lagu Lembayung Bali yang dinyanyikan oleh Saras Dewi. Lagu jadul sih, tapi menurut saya lagunya ada “roh” nya sehingga membuat saya untuk mendengarkan lagu ini minimal 1 kali sehari (nggak tiga kali sehari aja biar seperti minum obat?)

Secara umum, lagu- lagu yang menjadi favorite saya adalah lagu yang bergendre balad, folk, pop folk, folk jazz dan sejenisnya. Kebanyakan sih band yang membawakan lagu dengan gendre tersebut adalah band Indie (misalnya Payung Teduh, Float, dan Fourtwnty). Fyi (lagu) setiap kali saya memutar lagu itu ketika lagi kumpul sama teman- teman kuliah pasti mereka pada bilang “lagu opo to nu kuwi ki? marai ngantuk.”. Ya mungkin anti mainstream ya bagi anak- anak muda untuk mendengarkan dan suka dengan lagu- lagu semcam itu. Tapi, karena saya memang “beda” makanya mengapa saya suka lagu semacam dan sejenis itu. Aneh?  Nggak juga. Karena saya memperoleh kedamaian dan ketenangan ketika mendengarkan lagu bergenre folk, indie, balad, dan kawan- kawannya.hehe…

Silahkan kalau ada yang mau mencoba untuk men-donlot lagu tersebut dan mencoba menikmatinya sebagai “teman” saat belajar (nglembur garap tugas, hehe), nge- teh (bareng keluarga), atau bahkan sebagai penyemangat untuk mengawali hari. Sok atuh terserah Anda. Hehe. Bukan salah saya ya tapi kalau Anda jadi “ketagihan” untuk mendengarkan lagu- lagu itu, apalagi ketagihan sama Lembayung Bali-nya Saras Dewi. 

Selamat malam.

Salam dari Yogyakarta