Informasi Menarik dalam Prosiding International Congress on Mathematics Education (ICME) ke-13 (Part 2)

Postingan ini merupakan kelanjutan dari Informasi Menarik dalam Prosiding International Congress on Mathematics Education (ICME) ke-13 (Part 1)

Informasi Keempat

Ada tiga proses dalam literasi matematika, yaitu: 1) memformulasikan masalah atau kondisi nyata secara matematis sedemikian sehingga diperoleh permasalahan matematika; 2) menerapkan konsep, prosedur, dan penalaran matematika untuk mendapatkan hasil matematis; 3) mengintepretasikan, menerapkan, dan mengevaluasi hasil matematis tersebut agar diperoleh penyelesaian dari permasalahan atau kondisi nyata tersebut. Continue reading

Advertisements

Informasi Menarik dalam Prosiding International Congress on Mathematics Education (ICME) ke-13 (Part 1)

Berikut ini adalah beberapa informasi menarik yang saya temukan di dalam prosiding dari International Congress on Mathematics Education (ICME) ke-13.

Informasi Pertama

“Central to bear in mind is an inherent fact of teaching, namely, that teachers are always communicating, relating, and making sense across differences, including differences in age, gender identities, race and ethnicity, culture and religion, language, and experience. This important dimension of difference in identity and positionality means that a fundamental part of the work of teaching is being aware of and oriented to learning about and coordinating with others’ perspectives. Teaching is not just about what the teacher thinks; it is about anticipating what others think and care about, and attuning one’s talk, gestures, and facial expressions to how others might hear or read the teacher. It is about talking with one’s ear toward what someone else thinks, knows, or understands.” (p.17)

Berdasarkan penyataan di atas, dapat diperoleh informasi bahwa seorang guru sudah semestinya menyadari bahwa setiap siswa itu unik. Oleh karena itu, dalam mengajar, guru seharusnya tidak hanya terfokus pada apa yang diajarkan kepada siswa tetapi juga harus mampu memanajemen kelas dan memfasilitasi siswa untuk menyampaikan pendapat serta mampu mengoordinasi pendapat-pendapat siswa tersebut. Continue reading

Word Problems in Mathematics Education

Word problems are typically defined as verbal descriptions of problem situations wherein one or more questions are raised the answer to which can be obtained by the application of mathematical operations to numerical data available in the problem statement (Verschaffel et al. 2000).(Verschaffel et al., 2014, p.642).

Word problem (soal cerita) biasanya diartikan sebagai deskripsi verbal dari situasi-situasi permasalahan dimana satu atau lebih pertanyaan-pertanyaan dapat ditemukan penyelesaiannya dengan cara menerapkan operasi- operasi matematis ataupun data numeris yang terdapat dalam pernyataan masalah (problem statement) tersebut (Verschaffel et al., 2014, p.642).

Importantly, the term “word problem” does not necessarily imply that every task that meets the above definition represents a true problem, in the cognitive-psychological sense of the word, for a given student, i.e., a task for which no routine method of solution is available and which therefore requires the activation of (meta) cognitive strategies (Schoenfeld 1992).” (Verschaffel et al., 2014, p.642).


Menurut Verschaffel et al. (2014, p.642), word problem (soal cerita) tidak perlu merepresentasikan suatu masalah nyata, tetapi dapat juga berupa suatu permasalahan non-rutin yangmana untuk menemukan penyelesaiannya diperlukan suatu strategi metakognitif.
Referensi
Verschaffel, L., Depaepe, F. & Van Dooren, W. (2014). Word Problems in Mathematics Education. In S. Lerman (ed.), Encyclopedia of Mathematics Education, DOI 10.1007/978-94-007-4978-8.

Teacher-Centered Teaching in Mathematics Education

Teacher-Centered Teaching

Teacher-centered teaching is an approach to teaching that places the teacher as the director of learning and is mainly accomplished by lecture, repetitive practice of basic skills, and constructive feedback.”(Stephan, 2014, p.594)

Menurut Stephan (2014, p. 594), yang dimaksud dengan pendekatan pmengajar yang berpusat pada guru (teacher-centered) merupakan pendekatan mengajar yang menempatkan guru sebagai pengendali jalannya kegiatan pembelajaran dan umumnya pembelajaran dilaksanakan dengan cara satu arah (ceramah), pelatihan keterampilan-keterampilan dasar secara berulang-ulang, dan pemberian umpanbalik yang membangun. 
Referensi
Stephan, M. (2014). Teacher-Centered Teaching in Mathematics Education. In S. Lerman (ed.), Encyclopedia of Mathematics Education, DOI 10.1007/978-94-007-4978-8.

Scaffolding in Mathematics Education

Steps in Scaffolding

Scaffolding is generally conceived as an interactional process between a person with educational intentions and a learner, aiming to support this learner’s learning process by giving appropriate and temporary help. Scaffolding in mathematics education is the enactment of this purposive interaction for the learning of mathematical actions and problem solving strategies.” (Van Oers, 2014, p.535).



Menurut Van Oers (2014, p.535), scaffolding secara umum diyakini sebagai proses interaktif (yang dapat memengaruhi satu sama lain) antara guru dan siswa, yang ditujukan untuk mendukung proses belajar siswa dengan cara memberikan bantuan yang sesuai dan tidak bersifat terus-menerus. Lebih lanjut, jika dikaitkan dengan pendidikan matematika, scaffolding dapat diartikan sebagai interaksi (antara guru dan siswa) yang dilakukan secara sengaja untuk membantu (siswa) dalam melakukan kegiatan matematika dan melaksanakan strategi- strategi pemecahan masalah.

Referensi
Van Oers, B. (2014). Scaffolding in Mathematics Education. In S. Lerman (ed.), Encyclopedia of Mathematics Education, DOI 10.1007/978-94-007-4978-8.

Questioning in Mathematics Education

Questions

Questioning means here the use of questions and other prompts offered to students so as to help them get unstuck or to direct their attention in a potentially useful way so that they make mathematical progress.”(Mason, 2014, p.514)

Questioning bisa diartikan sebagai penggunaan pertanyaan-pertanyaan dan dukungan-dukungan lain yang ditawarkan kepada siswa sebagai bentuk bantuan kepada siswa agar tidak mandeg atau mengarahkan perhatiannya pada kemungkinan cara yang lebih baik sedemikian sehingga mereka dapat menciptakan suatu progres matematis (Mason, 2014, p.514).
Referensi
Mason, J. (2014). Questioning in Mathematics Education. In S. Lerman (ed.), Encyclopedia of Mathematics Education, DOI 10.1007/978-94-007-4978-8.

Problem Solving in Mathematics Education

Problem-Solving

Mathematical problem solving is a research and practice domain in mathematics education that fosters an inquisitive approach to develop and comprehend mathematical knowledge (Santos-Trigo 2007).”(Santos-Trigo, 2014, p.496).


Menurut Santos-Trigo (Santos Trigo, 2014, p.496), pemecahan masalah matematika merupakan suatu domain penelitian dan terapan dalam pendidikan matematika yang mengembangkan atau menumbuhkan rasa ingin tahu untuk mengembangkan dan menguasai pengetahuan matematis.

Referensi
Santos-Trigo, M. (2014). Problem Solving in Mathematics Education. In S. Lerman (ed.), Encyclopedia of Mathematics Education, DOI 10.1007/978-94-007-4978-8.