Untuk Diriku yang (Sedang) Berubah

Hai diriku
Apakah engkau baik- baik saja?
Apakah engkau nyaman dengan dirimu saat ini?
Apakah engkau menikmati hari-harimu?
Diriku… Katakan yang sejujurnya tentang dirimu
Akan kudengar segala keluh kesahmu
Akan kuterima segala risau hatimu
Diriku… Aku tahu sepenuhnya tentang dirimu
Aku tahu apa yang engkau khawatirkan
Aku tahu apa yang sedang membebani pikiran dan hatimu

Hai diriku
Apakah engkau merasa dirimu telah berubah?
Apakah engkau merasa ada yang telah hilang dari dirimu?
Apakah engkau merasa sesuatu telah pergi dari dirimu?
Diriku… aku tahu bahwa dirimu kini (sedang) berubah
Aku tahu ada yang hilang dari dirimu
Aku tahu bahwa sesuatu telah pergi dari dirimu
Ya. Aku tahu semua tentang dirimu
Diriku… ikhlaskanlah saja perubahan yang terjadi pada dirimu
Diriku… kau akan tahu menjadi apa dirimu setelah perubahan itu

Diriku… sudahilah sesak hatimu itu
Sudahilah kekhawatiranmu itu
Sudahilah rasa bersalahmu itu
Sudahlah ikhlaskanlah (perubahan itu)
Hingga nanti kau akan mengerti mengapa perubahan ini terjadi padamu… diriku
Sudahlah… semua akan indah pada waktu yang tepat
Percayalah diriku bahwa perubahan ini akan mendewasakanmu
Percayalah diriku bahwa perubahan ini akan menjadikanmu lebih tegar
Percayalah diriku bahwa perubahan ini akan menjadikan hatimu lebih kuat
Percayalah diriku bahwa perubahan ini akan membuatmu tensenyum (pada akhirnya)

Hai diriku
Kau harus yakin bahwa kau sanggup menghadapi perubahan itu
Kau harus yakin bahwa kau sanggup melewati perubahan itu
Kau harus percaya bahwa meskipun perubahan itu bersifat buruk, nampun kau bisa belajar darinya
Kau harus percaya bahwa hidup ini adalah proses perubahan yang terus terjadi
Kau harus percaya bahwa semuanya akan berakhir dengan indah
Dan kau harus percaya suatau saat nanti kau bisa berkata “ya aku bisa melewati perubahan ini” 🙂

paraf blog

Advertisements

Setengah Hati

Pernahkah Engkau mengerjakan sesuatu dengan setengah hati? Pernahkah Engkau melaksanakan sesuatu tapi Engkau menjalaninya dengan setengah hati? Jika pernah, maka apa yang Engkau rasakan teman? Bukankah sesak yang Engkau rasakan? Bukankah berat hati yang Engkau rasakan? Bukankah kemalasan yang Engkau rasakan? Bukankah rasa tidak ikhlas yang Engkau rasakan? Apalagi teman?

Sesungguhnya apa yang aku tuliskan di atas tidak lain merupakan luapan isi hati dan pikiran yang seolah terus merasuk dan mempengaruhiku. Selama kurang lebih 16 minggu aku melakukan dan menjalani sesuatu yang tidak aku minati. Bukan karena aku tidak ingin mengambil pelajaran dari hal itu, tetapi lebih karena masih ada “pertentangan” dalam pikiranku. Mengapa aku harus mengerjakan itu? Mengapa aku harus mengambil itu? Kan aku tidak ingin menjadi… kan cita- citaku bukan ingin jadi…. Mengapa aku diwajibkan untuk mengambilnya?

Mungkin bagi sebagian besar teman- temanku (atau malah semuanya 🙂 ) pola pikirku ini salah dan terlalu sempit dalam memandang sesuatu. Tidak memikirkan apa yang akan terjadi jauh kedepan nanti. Ya… mungkin apa yang dipikirkan oleh temanku itu benar atau aku- nya sendiri yang terlalu keras kepala (stubborn). 🙂 

Untungnya, hal yang menjadi ganjalanku tersebut kini telah pergi dan selesai ku lalui. Entah hasilnya tidak memuaskan, ya itu sudah menjadi konsekuensinya. Suatu hal kalau dilakukan dengan sepenuh hati pun hasilnya bisa dikatakan tidak jauh dari kata memuaskan. Sebaliknya, segala sesuatu yang dilakukan dan dijalani dengan setengah hati alias tidak ikhlas pun hasilnya juga tidak jauh dari kata tidak memuaskan :). So, teman tahulah mana yang terjadi pada diriku :). Can you guess it? 

Catatan: salah satu efek samping dari “setengah hati” adalah membuat susah dan merepotkan orang lain (aka teman 🙂 )

Kredit gambar
[1] https://4.bp.blogspot.com/-DqM9YM0fxE4/UUUiMNorm7I/AAAAAAAADkE/l1lU3_g-pyU/s1600/setengah-satuperdua.png