Rendah Diri

Entah sejak kapan aku merasa rendah diri dan tidak percaya diri terhadap kemampuan yang aku miliki. Mungkin sejak banyak orang lain (termasuk diriku) yang mulai membandingkan diriku dengan orang lain yang jauh lebih sukses (baca: sukses menurut definisi mereka). Mungkin juga karena sejak kemampuanku sudah tidak dihargai oleh orang lain dan berakhir jadi sia-sia. Atau mungkin karena aku takut dengan yang namanya kegagalan.

Beberapa kali mencoba untuk menghilangkan rasa rendah diri itu dengan beberapa cara. Memang seketika rasa rendah diri itu berkurang atau malah hilang, namun itu tidak berlangsung lama. Entah, lagi-lagi rasa itu menyerang kembali.

Apakah kamu pernah merasakan hal yang sama seperti yang sedang aku alami? Bagaimana caramu bisa menghilangkan rasa rendah diri itu?

Sekian.

Stay hungry and stay foolish 🙂

Advertisements

Tentang Perjalanan

Terkadang, perjalanan akan mengajak diri ini untuk melangkah pergi menuju destinasi yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Pernah saya bertanya pada diri sendiri “kok bisa ya aku di sini, di tempat yang bahkan tidak pernah aku tahu dan aku bayangkan sebelumnya?” atau “Kok aku tiba-tiba bisa sampai di tahap ini, padahal aku merasa tidak pantas untuk sampai di tahap ini.”

Continue reading

Memulang Waktu

Bagi kebanyakan orang, hari libur mereka adalah hari Sabtu dan Minggu. Tetapi tidak dengan saya. Bulan ini, hari libur saya adalah setiap hari Selasa dan Kamis. Aneh memang. Tapi tidak mengapa, yang penting mendapatkan libur. Lumayan ada waktu untuk tidur seharian sekadar bersantai atau membuat postingan baru di blog ini. Bagi yang hari ini sedang bekerja, selamat bekerja; bagi yang sedang sekolah, selamat belajar; dan bagi yang hari ini sedang libur (juga), selamat menikmati liburan. Pokoknya, apapun aktivitasmu hari ini, jangan lupa untuk selalu menikmatinya dan jangan lupa bersyukur 🙂 Continue reading

Seminar Nasional dan Internasional Pendidikan 2018

Education Conference

Berikut ini merupakan daftar kegiatan seminar nasional dan internasional yang memiliki fokus dalam bidang pendidikan yang diselenggarakan di Indonesia pada tahun 2018. Kegiatan seminar tersebut memberikan kesempatan bagi peserta untuk men-submit artikelnya untuk dipresentasikan ataupun dipublikasikan dalam prosiding seminar yang terindeks Google Scholar, Sinta, DOAJ, ataupun Scopus. Semoga bermanfaat.

  1. Seminar Nasional Pendidikan Dasar (SNPD) dan Lokakarya Penyusunan Perangkat Pembelajaran Berbasis HOTS, Program Studi PGSD dan PG PAUD FKIP UNS: Sabtu-Minggu, 25-26 Agustus 2018
  2. The 4th International Seminar on Science Education (ISSE): Emphasizing Technological Pedagogical Content Knowledge (TPACK) in science education for supporting 21st century skills standard, Universitas Negeri Yogyakarta: Sabtu, 13 Oktober 2018
  3. International Conference on Meaningful Education (ICMEd) towards Equitable and Righteous Societies, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Yogyakarta: Kamis-Jumat, 25-26 Oktober 2018

Word Problems in Mathematics Education

Word problems are typically defined as verbal descriptions of problem situations wherein one or more questions are raised the answer to which can be obtained by the application of mathematical operations to numerical data available in the problem statement (Verschaffel et al. 2000).(Verschaffel et al., 2014, p.642).

Word problem (soal cerita) biasanya diartikan sebagai deskripsi verbal dari situasi-situasi permasalahan dimana satu atau lebih pertanyaan-pertanyaan dapat ditemukan penyelesaiannya dengan cara menerapkan operasi- operasi matematis ataupun data numeris yang terdapat dalam pernyataan masalah (problem statement) tersebut (Verschaffel et al., 2014, p.642).

Importantly, the term “word problem” does not necessarily imply that every task that meets the above definition represents a true problem, in the cognitive-psychological sense of the word, for a given student, i.e., a task for which no routine method of solution is available and which therefore requires the activation of (meta) cognitive strategies (Schoenfeld 1992).” (Verschaffel et al., 2014, p.642).


Menurut Verschaffel et al. (2014, p.642), word problem (soal cerita) tidak perlu merepresentasikan suatu masalah nyata, tetapi dapat juga berupa suatu permasalahan non-rutin yangmana untuk menemukan penyelesaiannya diperlukan suatu strategi metakognitif.
Referensi
Verschaffel, L., Depaepe, F. & Van Dooren, W. (2014). Word Problems in Mathematics Education. In S. Lerman (ed.), Encyclopedia of Mathematics Education, DOI 10.1007/978-94-007-4978-8.

Teacher-Centered Teaching in Mathematics Education

Teacher-Centered Teaching

Teacher-centered teaching is an approach to teaching that places the teacher as the director of learning and is mainly accomplished by lecture, repetitive practice of basic skills, and constructive feedback.”(Stephan, 2014, p.594)

Menurut Stephan (2014, p. 594), yang dimaksud dengan pendekatan pmengajar yang berpusat pada guru (teacher-centered) merupakan pendekatan mengajar yang menempatkan guru sebagai pengendali jalannya kegiatan pembelajaran dan umumnya pembelajaran dilaksanakan dengan cara satu arah (ceramah), pelatihan keterampilan-keterampilan dasar secara berulang-ulang, dan pemberian umpanbalik yang membangun. 
Referensi
Stephan, M. (2014). Teacher-Centered Teaching in Mathematics Education. In S. Lerman (ed.), Encyclopedia of Mathematics Education, DOI 10.1007/978-94-007-4978-8.

Scaffolding in Mathematics Education

Steps in Scaffolding

Scaffolding is generally conceived as an interactional process between a person with educational intentions and a learner, aiming to support this learner’s learning process by giving appropriate and temporary help. Scaffolding in mathematics education is the enactment of this purposive interaction for the learning of mathematical actions and problem solving strategies.” (Van Oers, 2014, p.535).



Menurut Van Oers (2014, p.535), scaffolding secara umum diyakini sebagai proses interaktif (yang dapat memengaruhi satu sama lain) antara guru dan siswa, yang ditujukan untuk mendukung proses belajar siswa dengan cara memberikan bantuan yang sesuai dan tidak bersifat terus-menerus. Lebih lanjut, jika dikaitkan dengan pendidikan matematika, scaffolding dapat diartikan sebagai interaksi (antara guru dan siswa) yang dilakukan secara sengaja untuk membantu (siswa) dalam melakukan kegiatan matematika dan melaksanakan strategi- strategi pemecahan masalah.

Referensi
Van Oers, B. (2014). Scaffolding in Mathematics Education. In S. Lerman (ed.), Encyclopedia of Mathematics Education, DOI 10.1007/978-94-007-4978-8.