Penelitian Studi Kasus (Case Study) (2)— A Case Study of Elementary Beginning Mathematics Teachers’ Efficacy Development

Setelah mengulas artikel penelitian yang menggunakan pendekatan penelitian/ studi naratif dan fenomenologi, kali ini saatnya mengulas artikel penelitian yang menggunakan pendekatan penelitian studi kasus (case study). Ulasan yang disajikan meliputi informasi artikel, thesis statement (pernyataan tesis), dan ringkasan dan deskripsi penelitian. Selamat membaca dan menikmati. Semoga bermanfaat.

Informasi Artikel
Judul:
A Case Study of Elementary Beginning Mathematics Teachers’ Efficacy Development
Penulis:
Yu-Liang (Aldy) Chang, Institute of Teaching Art, MingDao University Changhua, Taiwan dan Chiayi, Taiwan
Informasi publikasi:
International Journal of Science and Mathematics Education, Volume 8, Issue 2, pp 271–297. DOI: https://doi.org/10.1007/s10763-009-9173-z
Pernyataan topik dan tujuan:

Consequently, it would be essential and helpful at the current stage to understand (a) elementary mathematics teacher efficacy within the circumstance of executing practical instruction, (b) possible changes and the process in their efficacy development, and (c) similarities and differences among teachers with various backgrounds, qualitatively.

The purpose of this study was to explore the process of elementary beginning mathematics teachersefficacy development in their first year teaching assignment, that is, to examine what changed in the process and what might bring about the changes.

Dari dua pernyataan di atas dapat kita ketahui bahwa yang menjadi topik dalam artikel penelitian tersebut adalah teacher efficacy (efikasi guru) matematika sekolah dasar dalam melaksanakan pengajaran, perubahan dan proses yang terjadi pada perkembangan efikasi guru, dan persamaan dan perbedaan efikasi antara guru-guru matematika yang memiliki latar belakang yang berbeda. So, tujuan dilakukannya penelitian tersebut adalah untuk mengeksplor dan memahami ketiga topik secara kualitatif.

Thesis Statement

It was considered not only as the key indicator for examining the appropriateness and adequacy of a teachers personal instructional readiness (e.g., Allinder, 1995; Madison, 1997; Muijs & Reynolds, 2001; Tschannen-Moran & Woolfolk Hoy, 2001) but also as a warning of critical problems faced by a teacher education program and an orientation for future directions of its reform movement (Chang, 2003; Chang & Wu, 2006). However, most studies conducted in Taiwan (e.g., Chu-Chen, 2002; Hong, 2002) have focused on investigating elementary teacher efficacy quantitativelyand generally(i.e., not specifically for certain subject areas): Few of them have chosen a single subject area such as mathematics for examination. Also, only a few studies have investigated beginning teachersefficacy (Woolfolk Hoy & Burke-Spero, 2005).

Bahwa beberapa alasan penting untuk melakukan penelitian secara kualitatif terhadap efikasi guru matematika sekolah dasar adalah: 1) adanya hasil penelitian terdahulu yang mengungkapkan bahwa efikasi guru merupakan indikator penting untuk menentukan kemampuan dan kecakapan seorang guru dalam melakukan pengajaran yang nantinya dapat digunakan oleh program pendidikan guru dalam melakukan perbaikan; 2) masih sedikitnya penelitian secara kualitatif pada masalah efikasi guru matematika sekolah dasar di Taiwan; dan 3) masih sedikitnya penelitian tentang efikasi seorang guru pemula.

Ringkasan dan deskripsi penelitian yang dilakukan
Sesuai dengan judul artikel penelitian yang saya ulas kali ini, pendekatan penelitian yang digunakan oleh Yu-Liang (Aldy) Chang untuk meneliti perkembangan efikasi guru matematika sekolah dasar adalah pendekatan studi kasus (case study) yang dilaksanakan selama satu tahu (Hiks… suwe banget mbok). Lebih lanjut, jenis studi kasus yang dipilih adalah multipe case study (collective case study). Ada sebanyak enam guru (pemula) matematika sekolah dasar yang dijadikan sebagai subjek penelitian yang dipilih melalui purposeful sampling. O iya, keenam guru yang dipilih ini memiliki latar belakang pendidikan yang berbeda lho— ada yang dari pendidikan matematika, IPA, tata boga, musik, dan seni. Dari keenam guru tersebut kemudian dibagi menjadi dua kelompok berdasarkan tiga tingkatan efikasi (rendah, sedang, tinggi) yang didasarkan pada hasil pre-test dan berdasarkan latar belakang pendidikannya.  Nah, inilah alasan mengapa jenis studi kasus dalam penelitian tersebut adalah multiple case study— isu/ fokus penelitiannya hanya satu, yaitu efikasi guru, tetapi digunakan beberapa kasus untuk mengilustrasikan efikasi guru tersebut.

Data- data yang diperlukan dalam penelitian tersebut dikumpulkan melalui wawancara mendalam, pengamatan semi-terstruktur, dan catatan refleksi mingguan peneliti dan guru pemula. Adapun jenis instrumen yang digunakan untuk melihat perkembangan efikasi keenam guru yang ada adalah Mathematics Teaching Efficacy Beliefs Instrument (MTEBI) yang terdiri dari 21 butir soal berskala Likert. Instrumen ini diberikan kepada subjek penelitian pada saat awal tahun (sebagai pre-test) dan akhir tahun (sebagai post-test). Instrumen yang digunakan mencakup 3 aspek yang berkaitan dengan efikasi guru— ketekunan dan keuletan dalam mengajar, kinerja dan sikap dalam mengajar, reaksi psikologis dan emosi. Data- data yang telah terkumpul kemudian dianalisis secara induktif dengan mengacu pada prosedur analisis data kualitatif seperti yang dikemukakan oleh David R. Thomas melalui tulisannya yang berjudul a general inductive approach for qualitative data analysis.

Berdasarkan analisis data yang telah dilakukan, diperoleh informasi/ hasil penelitian sebagai berikut.

  1. Terdapat lima tingkatan efikasi yang ditunjukkan oleh keenam guru (pemula) matematika sekolah dasar
  2. Guru (pemula) yang memiliki efikasi tinggi (berdasarkan hasil pre-test) menunjukkan perkembangan yang cepat untuk mencapai tingkatan efikasi yang keempat. Hal ini dikarenakan mereka memiliki pengalaman dan/ atau latar belakang yang mendukung dalam mengajar sedemikian sehingga mereka percaya diri dalam mengajar, mampu mengorganisasi dan mengatur kondisi belajar- mengajar, dan mampu menerapkan berbagai strategi pembelajaran untuk memfasilitasi siswa dalam belajar secara maksimal.
  3. Guru (pemula) yang memiliki efikasi rendah (berdasarkan hasil pre-test) menunjukkan perkembangan efikasi hanya sampai pada tingkatan ketiga (yang memiliki latar belakang pendidikan matematika/ IPA) dan tingkatan kedua (yang tidak memiliki latar belakang pendidikan matematika/ IPA). Mereka cenderung hilang kendali dalam mengondisikan kelas dan terkadang mereka bingung terhadap apa yang harus mereka lakukan dalam pembelajaran. Selain itu, pembelajaran yang diterapkan cenderung terpaku pada buku teks. Perkembangan efikasi kedua guru tersebut lebih disebabkan karena adanya faktor eksternal berupa diskusi teman sejawat yang difasilitasi oleh pihak sekolah sedemikian.
  4. Guru (pemula) yang memiliki efikasi sedang (berdasarkan hasil pre-test) menunjukkan perkembangan efikasi sampai pada tingkatan ketiga (baik yang memiliki atau tidak memiliki latar belakang pendidikan matematika/ IPA).
  5. Bahwa tingkat dan perkembangan efikasi guru dapat dipengaruhi oleh faktor internal (seperti motivasi, pengalaman diri sendiri, dan latar belakang pendidikan) dan faktor eksternal (seperti pengalaman orang lain).

Cukup sekian postingan saya kali ini. Banyak kurangya mohon maaf. Apabila teman- teman memiliki pertanyaan terkait postingan ini atau ada kritik atau saran, jangan enggan untuk menyampaikannya dengan cara menuliskannya di kolom komentar.

Note: Untuk postingan selanjutnya membahas mengenai artikel tentang penelitian yang menggunakan pendekatan grounded theory.

Referensi
Creswell, J. W. (2007). Qualitative Inquiry & Research Design: Choosing Among Five Approaches (2nd ed.). Thousand Oaks, California: Sage Publications, Inc.

Chang, YL. (2010). A case study of elementary beginning mathematics teachers’ efficacy development. International Journal of Science and Mathematics Education, 8(2), 271-297. https://doi.org/10.1007/s10763-009-9173-z

Stay hungry and stay foolish 🙂

paraf blog

Advertisements