Penelitian/ Studi Fenomenologi (1)

Satu dari lima pendekatan dalam penelitian kualitatif telah saya bahas pada postingan yang berjudul Penelitian/ Studi Naratif (1). Sekarang saatnya berganti bahasan ke pendekatan berikutnya, yaitu penelitian/ studi fenomenologi. Melalui postingan ini, dibahas tentang pengertian penelitian/ studi fenomenologi, jenis- jenis studi fenomenologi, prosedur untuk melaksanakan studi fenomenologi, tantangan dalam melakukan studi fenomenologi dan contoh artikel hasil penelitian yang menggunakan pendekatan studi fenomenologi. Selamat membaca dan menikmati 🙂

Studi fenomenologi merupakan studi yang berusaha untuk mendeskripsikan dan memaknai suatu fenomena atau konsep dari pengalaman hidup beberapa individu (Creswell, 2007: 57). Melalui studi fenomenologi ini diharapkan dapat diperoleh deskripsi umum dan penting dari suatu fenomena yang terjadi pada beberapa individu. Deskripsi ini dapat berupa deskripsi tekstural (deskripsi tentang pengalaman apa yang dialami oleh individu terkait suatu fenomena) dan deskripsi struktural (deskripsi tentang bagaimana individu mengalami dan memaknai pengalamannya terkait suatu fenomena).  Jadi, dari pengertian ini diperoleh informasi bahwa hal yang membedakan antara studi naratif dan studi fenomenologi adalah banyaknya partisipan dan fokus tujuan studi. Studi naratif berusaha untuk memotret cerita pengalaman hidup individu- individu (dalam jumlah yang sedikit) secara lengkap, sedangkan studi fenomenologi cenderung bertujuan untuk memahami fenomena dari kesamaan pengalaman hidup beberapa individu (dalam jumlah yang lebih banyak daripada partisipan dalam studi naratif).

Studi fenomenologi dibagi menjadi dua jenis, yaitu fenomenologi hermeneutik dan fenomenologi transenden (empiris atau psikologi). Berikut disajikan penjelasan dari kedua jenis studi fenomenologi.

  1. Fenomenologi hermeneutik. Menurut Van Manen (Creswell, 2007: 59), fenomenologi hermeneutik merupakan studi yang bertujuan untuk mendeskripsikan fenomena dari pengalaman hidup seseorang dan menginterpretasikan cerita atau tulisan (teks) terkait pengalaman hidup seseorang tersebut. Lebih lanjut, feneomenologi hermeneutik berfokus pada hubungan antara suatu kejadian/ pengalaman/ fenomena dan individu (partisipan), serta bagaimana suatu konsep atau pemahaman dapat diperoleh dari hubungan tersebut.
  2. Fenomenologi transenden. Berbeda dengan fenomenologi hermeneutik, fenomenologi transenden merupakan studi yang terfokus pada pendeskripsian pengalaman hidup seseorang (partisiapan). Adapun konsep yang digunakan dalam fenomenologi adalah epoche (atau bracketing). Berdasarkan konsep epoche, seorang peneliti (investigator) sebisa mungkin mengesampingkan dugaan- dugaan awal penelitiannya (yang belum teruji kebenarannya) agar dapat memahami fenomena yang muncul dari individu (partisipan) melalui sudut pandang yang baru.

Nah, lalu bagaimanakah prosedur untuk melakukan studi fenomenologi?

Berikut ini merupakan prosedur yang dapat diguanakan untuk melakukan studi fenomenologi yang diadaptasi dari Moustakas (Creswell, 2007: 60).

  1. Menentukan apakah suatu permasalahan cocok jika dipecahkan atau diteliti dengan menggunakan studi fenomenologi. Perlu diketahui bahwa permasalahan yang cocok diteliti dengan studi fenomenologi adalah permasalahan yang sifatnya penting untuk digunakan dalam memahami fenomena- fenomena yang muncul dari kesamaan pengalaman hidup beberapa individu (partisipan).
  2. Mengidentifikasi kesamaan dari fenomena- fenomena yang ada sedemikian sehingga diperoleh hal yang menarik untuk diteliti atau dikaji.
  3. Menentukan jenis studi fenomenologi yang akan digunakan (fenomenologi hermeneutik atau fenomenologi transenden).
  4. Mengumpulkan data dari individu (partisipan) yang terlibat atau mengalami fenomena- fenomena yang sedang diteliti. Data pada studi fenomenologi dapat diperoleh melalui wawancara mendalam (in- depth interviews) dan observasi. Dalam melakukan wawancara, peneliti dapat menggunakan pertanyaan- pertanyaan yang bersifat umum dan pertanyaan tipe open- ended.
  5. Setelah data terkumpul, langkah selanjutnya adalah melakukan analisis terhadap data tersebut.
  6. Setalah melakukan analisis data, peneliti melakukan deskripsi, baik deskripsi tekstural maupun deskripsi struktural, untuk memperoleh esensi (hal penting) dari suatu fenomena yang diteliti.

Seperti halnya dengan studi naratif, mungkin saja peneliti akan menghadapi tantangan- tantangan selama melakukan studi fenomenologi. Bahwa dalam melakukan studi fenomenologi diperlukan pemahaman yang lebih pada asumsi- asumsi filosofis dan mampu mengidentifikasi asumsi tersebut. Selain itu, peneliti juga harus berhati- hati dalam menentukan partisipan agar nantinya esensi dari suatu fenomena dapat diperoleh. Terakhir, bahwa konsep epoche (atau bracketing) bisa jadi akan sulit untuk dilakukan. Oleh karena itu, peneliti diharapkan dapat menentukan bagaimana dan cara yang seperti apa yang dipilih untuk menyampaikan pemahamannya terhadap suatu fenomena dalam penelitian/ studi yang dilakukannya.

Cukup sekian postingan saya kali ini. Banyak kurangya mohon maaf. Apabila teman- teman memiliki pertanyaan terkait postingan ini atau ada kritik atau saran, jangan enggan untuk menyampaikannya dengan cara menuliskannya di kolom komentar 🙂

Note: Untuk postingan selanjutnya membahas mengenai artikel tentang penelitian yang menggunakan pendekatan studi fenomenologi.

Referensi
Creswell, J. W. (2007). Qualitative Inquiry & Research Design: Choosing Among Five Approaches (2nd ed.). Thousand Oaks, California: Sage Publications, Inc.

Stay hungry and stay foolish 🙂

 

Advertisements