Sungai Kehidupan: Suatu Pengingat Diri 

Semester ini saya mengikuti perkuliahan pendidikan sosial budaya (PSB). Dari namanya saja mungkin kita akan dengan mudah menebak kira- kira apa yang diajarkan atau dibahas pada mata kuliah ini. Ya, mata kuliah ini mrmbahas hal- hal seperti: (1) karakter dan pendidikan, (2) komunikasi sosialisasi, (3) manusia dan peradabannya, dan (4) kepemimpinan. Pertama kali mendengar PSB jujur saya menganggap pembelajaran akan membosankan. Nah, pada suatu hari saya bertanya (baca: kepo) kepada teman sekelas yang sudah mengambil mata kuliah PSB dengan dosen yang sama seperti yang akan mengajar kelas yang akan saya ikuti. ” Eh, Ta, gimana ya pelajaran PSB sama Bu X (nama dirahasiakan), asik nggak?, enak nggak? ngasih nilainya gimana?”. Heheheh seperti penyelidik aja ya pertanyaaan saya. Ya harap maklum kawan- kawan. Saya ini tipe orang yang sering “ngepoin” dosen/guru yang akan/sedang mengampu mata kuliah yang saya ikuti. Mulai dari asalnya mana, lulusan mana, karyanya apa, dll. Hehe, maafkeun saya ya Bapak/ Ibu dosen. Eh kok ceritanya kemana- mana ya jadinya. Balik lagi ke cerita utama. Setelah aku menanyakan hal seperti itu pada Ita (teman sekelas), dia menjawab “Ehm, cara mengajar Ibunya enak kok, jelas. Soalnya Ibunya udah berpengalaman dan udah Doktor. Pembelajarannyapun lebih berfokus pada pendekatan berbasis masalh. Terus banyak cerita- ceritanya yang menginspirasi. Asiklah pokoknya dan ngasih nilainya juga enak.” Ehmmm jadi penasaran saya. Apakah benar yang dikatakan teman saya ini. Akan saya buktikan. Hahahaha (ketawa mulu deh dari tadi :).

Siang itu setelah mengikuti perkuliahan multimedia saya untuk pertama kalinya akan mengikuti perkuliahan pendidikan sosial budaya (Alhamdulillah). Apa kesan pertama kali ikut mata kuliah psb (pendidikan sosial budaya)? Ngantuk? Bosen? Gaje? Jawabannya (secara berturut- turut) adalah Asik, Tidak ngantuk, Tidak bosen, Jelas banget kok….. (wahahahahh). Ibu (dosen) dalam menjelaskan materi- pun tidak terpaku dengan slide di ppt. Malahan terkesan lebih banyak cerita- cerita tentang perjalanan hidup beliau yang ‘dikemas’ secara ‘apik’ sedemikian sehingga bisa dikaitkan dengan materi kuliah saat itu. Hebat bukan?

Pertemuan (kuliah) berikutnya adalah presentasi kelompok. Kalau boleh jujur, saya tidak suka dengan yang namanya metode presentasi kelompok karena alasan tertentu. Nah, metode pembelajaran yang seperti ini, maaf, sedikit membuat saya menjadi bosan. 

Mungkin langsung saja menuju dua pertemuan terakhir sebelum menatap ujian akhir semester (uas). Nah, menurut saya 2 pertemua terakhir ini adalah pertemuan (kuliah) yang paling berkesan. Kenapa bisa berkesan? Jawabannya adalah karena pada pertemua tersebut kami diminta untuk membuat gambar tentang perjalanan kehidupan kita dari lahir hingga sekarang (tapi yang diambil hanya kejadian yang paling berkesan dan harus ada kejadian sedih dan bahagiannya). Gambar perjalanan hidup tersebut kemudian dikenal dengan nama ‘sungai kehidupan’. Kita diberikan kesempatan yang besar untuk berkreasi dan berkreativitas dalam membuat ‘sungai kehidupan’ kita. Bisa dengan menggunakan krayon, barang- barang bekas, koran, spidol, krayon, atau bahkan dengan menggunakan bantuan teknologi. 

Setelah ‘sungai kehidupan’ kami dibuat, kami semua diminta untuk duduk membentuk suatu model lingkaran (besar). Tahukah apa yang akan terjadi selanjutnya?. Yups, kami harus menceritakan ‘sungai kehidupan’ tersebut dihadapan teman- teman sekelas. Oh no…

Agak malu sih kalau harus cerita tentang perjalanan hidup saya dengan teman- teman sekelas. (Tutup mata dan telinga ah biar nggak malu, ups apaan sih…). Ya, waktu yang ditunggupun akhirnya datang. Saya kebagian untuk menceritakan sepenggal kisah perjalanan hidup saya (yang manis, asem, pedas dan asin). Karena jujur saya merupakan orang yang cenderung menutup atau menyimpan sebagian besar perjalanan hidup saya (saya menganggapnya sebagai privasi dan hampir tidak pernah saya ceritakan kepada siapapun, kecuali orang tua). Ok beberapa menit saya menceritakan perjalanan hidup saya yang saya mulai dari masa SMA sampai masa semester 5 (kuliah) ini. Lagi- lagi karena tidak banyak yang bisa saya ceritakan ke teman- teman sekelas, ya akhirnya saya hanya bercerita sekitar 5 menit. Cepet kan? Ya iya lah cepet….hehehe….

Selanjutnya giliran teman saya yang lain yang berbagi kisah perjalanan hidup mereka. Jujur, ketika mendengar kisah mereka, khususnya bagian yang mengharukan dan menyedihkan, ada perasaan iba dan bersyukur. Bersyukur karena jika selama ini saya merasa bahwa saya sebagai orang yang ‘termalang’ di dunia merupakan persaan atau anggapan yang salah (besar). Bahwa ternyata masih banyak orang yang jauh lebih berat masalahnya, banyak yang jauh lebih menderita, banyak yang jauh lebih berkekurangan, dan lain sebagainya. Namun, mengapa terkadang saya masih tidak bersyukur kepadaNya. Ya, saya mengakui bahwa saya hanyalah hambaNya yang belum pandai mengucap syukur.

Nah, tahu tidak bahwa ada kejadian lucu saat teman- teman menceritakan kisah perjalanan hidupnya yang menyedihkan? Salah seorang teman dengan polosnya teriak “tisu- tisu cah. Sopo sing nduwe tisu”. Hehhe… Sekadar info bahwa maksud dari teman saya mengatakan hal itu adalah bermaksud memintakan tisu ke teman yanh membawa tisu untuk diberikan kepada teman lain yang sedang bercerita dengan asumsi bahwa ia khawatir kepada temannya yang sedang bercerita akan menangis. Makanya dia teriak minta tisu. Akibat ‘ulah’nya, dari yang semula suasana kelas terselimuti oleh keharuan e mendadak menjadi terselimuti oleh canda tawa (guyonan). Otomatis yang awalnya teman saya mau nangis e malah jadi tertawa (tapi tidak terbahak- bahak). Ada- ada saja ya tingkah atau perilaku mereka. Usil sih, tapi ya lumayan lah bisa buat orang lain menjadi tertawa).

Balik lagi ke pokok cerita ya (maafkeun ceritanya ngalor ngidul ra  nggenah ). Hehe… Ya intinya sih, saya berpikir bahwa pembelajaran dengan sungai kehidupan ini bisa menjadikan kita semua menjadi orang yang mampu untuk mengungkapkan gagasannya dan sekaligus sebagai pengingat diri menganai kejadian- kejadian yang telah kita lewati dan harapannya bisa digunakan sebagai pelajaran hidup agar bisa menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih baik. Salah satu pesan dari Ibu dosen saya yang saya rasa cukup menampar diri ini adalah yang kurang lebih seperti ini:” bagi yang dulu pernah menjadi juara umum, juara berbahai lomba, dan memiliki banyak prestasi, cobalah tanyakan kepada diri sendiri, mengapa saat ini Anda tidak (atau belum) bisa mencapai hal itu kembali?”. Singkat sih pesan dari beliau tapi menurut saya sangat dalam maknanya dan seperti pengingat diri untuk bisa meraih kesuksesan seperti apa yang pernah kita raih saat dahulu kala dan berusaha agar bisa mencapai kondisi/ hidup yang lebih baik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s