Sepenggal Rahasia Perjalanan Hidupku

Masa kanak- kanak adalah masa dimana kita bebas bermain, bebas untuk jajan (permen, es krim, mainan, dll), tidak memikirkan tugas- tugas sekolah yang banyak dan sepertinya masa kanak- kanak adalah masa yang masih terbebas sama yang namanya masalah. Lalu bagaimana dengan kehidupanku saat masa kanak- kanak? Apakah sama seperti layaknya kehidupan anak- anak lain semasa kanak- kanak? Ya kehidupanku saat masih kanak- kanak sama seperti layaknya kehidupan kanak- kanak lain. Lalu apa yang menjadi perbedaannya?. Omelan, cubitan, dan jeweran mamak selalu ada setiap hari saat masa kanak- kanakku. Bahkan percaya atau tidak sampai sekarang masih ada bekas cubitan itu di pahaku. Mamak melakukan hal itu karena aku membandel, tidak mendengar nasehatnya, bangun kesiangan, telat mandi, tidak mau membereskan tempat tidur, tidak mau menyapu lantai dan halaman rumah, dan jenis kenakalanku lainnya. Jadi tidak mengherankan kalau saat itu pasti dapat dipastikan aku akan menangis setiap hari sebagai akibat kenakalanku yang juga aku lakukan setiap hari. Bahwa saat kanak- kanak aku hanya memiliki satu mainan yaitu sebuah robot- robotan. Kalau mau mainan ya mainannya yang tidak menggunakan robot- robotan dan sejenisnya. Paling ya mainan petak umpet, gobak sodor, polisi- polisian, bal- balan (sepak bola) dan jenis permainan tradisional lainnya. Jadi masa kanak- kanakku adalah masa untuk bermain dan menangis ria akibat “kejahatan” mamak padaku. Pada masa kanak- kanak, mamak dan bapak juga mendisiplinkanku dalam hal bertata krama (unggah- ungguh), seperti bagaimana cara menghargai orang lain dan bertindak. Mamak dan bapak juga berpesan bahwa tata karma harus tetap dijaga sampai meninggal.

Saat usiaku 5,5 tahun mamak memasukkanku ke Sekolah Dasar (SD). Sebenarnya saat mamak mendaftarkanku untuk masuk SD, Bu guru kelas 1 belum mengizinkan aku untuk masuk SD karena usiaku belum memenuhi batas minimal untuk masuk SD. Aku bisa ikut sekolah tapi mungkin statusnya hanya sebagai murid “Titipan”. Murid “titipan” artinya bahwa jika aku tidak bisa mengikuti pelajaran anak kelas 1 SD maka aku akan tetap di kelas 1 SD atau “tidak naik kelas” dan jika aku bisa mengikuti pelajaran, maka aku juga bisa ikut teman- temanku untuk naik kelas. Perlu diketahui bahwa aku tidak mengenyam pendidikan TK karena untuk TK aku harus pergi ke Kecamatan yang jaraknya cukup jauh dan terkendala dengan biaya. Yang terpenting adalah betapa bahagianya hatiku saat itu karena aku sudah bisa bersekolah dan memakai seragam baru untuk pertama kalinya.

Saat masuk kelas 1 SD, kehidupanku mulai sedikit berubah. Yang tadinya setiap hari isinya hanya bermain sekarang menjadi bermain dan belajar dengan porsi belajar lebih banyak dibandingkan bermain. Masa kelas 1 SD ini merupakan perjuangan hidup dan mati agar aku bisa naik kelas bersama teman- teman sekalasku. Jadi, pada masa ini aku isi dengan belajar calistung (baca, tulis, hitung). Setiap ada PR aku selalu ingin bertanya langsung dan meminta mamak untuk membantuku mengerjakan PR. Namun yang dilakukan mamakku tidak langsung memberikan jawabannya melainkan mengomel- ngomel dan menyuruhku untuk membaca materinya terlebih dahulu. “ Diwoco dhisik materine ojo isone mung asal takon, thithik- tithik takon, thitik- thitik takon. Ojo dadi wong malesan”. Begitulah omelan mamakku sambil kadang- kadang menjewerku. Mungkin karena itulah hingga masa aku kuliah sampai saat ini, jika ada suatu PR atau soal dari dosen, aku selalu berusaha untuk memahami dulu materinya, mencari dulu sumber- sumber yang bisa digunakan untuk mengerjakan soal tersebut, berusaha mengerjakannya terlebih dahulu, dan jika memang belum menemukan solusinya baru tanya ke teman atau ke orang yang memang tahu solusi soal/ permasalahan tersebut. Meskipun terlihat ribet namu menurutku apa yang diterapkan mamak itu menjadikanku pribadi yang sangat mementingkan perencanaan dan proses bukan pada hasil akhir semata. Jadi itulah prinsip hidupku yang aku pegang sampai sekarang. Pun sudah biasa bahwa aku ketika mengerjakan suatu hal pasti aku membutuhkan waktu yang lebih dibanding teman- temanku.

Karena mamak menerapkan cara yang menurutku menjadi disiplin dalam belajar, akhirnya aku bisa merasakan naik kelas dan status “murid titipan” sudah berhasil aku lepas. Mulai saat itu aku menjadi tambah lebih giat dalam belajar (tanpa mengesampingkan “pekerjaan utama” yaitu bermain) dan mamakku mulai kewalahan untuk mengajariku dalam mengerjakan PR. Untuk mengatasi hal tersebut aku harus giat untuk membaca materi pelajaran yang ada di LKS SUKSES (nama LKS) ku, sebab soal- soal yang ada di LKS semua jawabannya pasti dapat ditemukan di materi yang ada di LKS. Kalau malas membaca ya pasti akan kesulitan untuk menemukan jawabannya bukan?. Bahwa saat SD aku juga mengikuti beberapa kegiatan ekstrakulikuler seperti Pramuka, Baca Puisi Jawa (Geguritan), Tari Tradisional. Dengan kegiatan ekstrakulikuler tersebut aku bisa mengikuti perlombaan dan diantaranya aku memperoleh juara.

Masa SD pun telah cepat berlalu dan diganti dengan masa SMP. Siapa yang menyangka bahwa ketika kelas VII SMP aku bisa menjadi wakil ketua OSIS dan ketika kelas VIII aku menjadi ketua OSIS. Teman- teman kuliahku pun pasti tidak menyangka dan sanksi jika aku bisa atau pernah menjadi ketua OSIS karena aku yang sekarang mungkin telah berbeda dengan aku saat SMP. Meskipun aktif sebagai pengurus OSIS dan mengikuti kegiatan ekstrakulikuler seperti Pramuka dan KIR (Karya Ilmiah Remaja), aku tidak lantas mengabaikkan belajarku. Mamak pernah berpesan kalau padaku untuk tidak pernah mengabaikkan yang namanya belajar dan jangan sampai kegiatan ekstrakulikuler dan OSIS mengganggu belajarmu dan menurunkan prestasimu. Dari nasehat mamak inilah, aku menjadi lebih terpacu untuk terus giat dalam belajar dan tidak mengesampingkan berorganisasi. Alhasil, akupun bisa menjadi juara umum sampai lulus SMP. Juga ada suatu nasehat dari guru Bahasa Jawa bahwa intinya kalau suatu saat nanti siswanya bertemu dengannya dan tidak memakai bahasa Jawa, beliau tidak akan menganggapnya sebagai muridnya. Dari nasehat inilah aku mendapat nasehat bahwa sebagai orang Jawa harus tetap menjaga tutur katanya (menggunakan bahasa Jawa sesuai aturannya, ngoko atau krama) dan tindak tanduknya sesuai dengan falsafah hidup orang jawa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s